Minggu, 07 April 2013

PRO DAN KONTRA TERHADAP HERMENEUTIKA

Oleh: Yaser Amri

Ketika membaca judul di atas maka perlu dipahami bahwa yang menjadi pro dan kontra dalam kancah perdebatan intelektual muslim adalah hermeneutika sebagai metode memahami Alquran atau penerimaan hermeneutika sebagai salah satu metode tafsir yang sejajar dengan ulum al-tafsir, bukan hermeneutika sebagai metode untuk memahami teks selain Alquran dan hadis. Bila kita peta-kan sikap intelektual muslim Indonesia dari penerimaannya terhadap hermeneutika, kita akan melihat dengan jelas sebagian besar dari yang pro hermeneutika adalah kalangan pemikir liberal yang berlatar pendidikan barat, sedangkan yang kontra kebanyakan berasal dari pemikir fundamental yang berlatar pendidikan timur tengah, sebagian lagi adalah kelompok moderat yang lebih suka berada pada daerah abu-abu, tidak memilih pro atau kontra, atau antara menerima sebagian dan menolak sebagian lainnya. Namun pemetaan tersebut bukanlah pembagian yang mutlak, karena sebagian "jebolan" barat ada juga yang tidak liberal, dan sebaliknya keluaran timur tengah juga ada yang mempunyai pemikiran liberal.

Hermeneutika sejatinya adalah metode menafsirkan teks, diambil dari kata Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan atau dari kata bendanya hermeneia yang artinya penafsiran. Tampaknya kata itu diambil orang Yunani dari nama tokoh mitologis Hermes, seorang utusan dewa yang bertugas menyampaikan pesan-pesan dewa ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia. Pada awalnya hermeneutika merujuk pada aktifitas menafsirkan teks mitos untuk memahami makna terdalam di balik kata-kata, yang telah dimulai oleh Hommer dan Hesoid. Pada perkembangan sejarah hermeneutika, akitiftas memahami makna terdalam di balik kata tersebut juga dilakukan pada teks kitab suci, seperti yang dilakukan oleh Philo von Alexandrien terhadap teks Perjanjian Lama.

Dia mencoba mengungkap makna literal dan allegoris untuk mengetahui makna yang terdalam dari teks. Kegiatan ini mungkin bisa disamakan dengan takwil dalam tradisi Islam. Seiring dengan perjalanan waktu, hermeneutika, singkatnya menjadi metode penafsiran Bible pada masa renaissance abad 19 dan 20, yang dimulai oleh Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768-1834). Ia dianggap sebagai bapak hermeneutika modern karena menghidupkan kembali hermeneutika sebagai seni penafsiran dalam tradisi gereja. Teori
hermeneutika Schleimacher berangkat dari dua hal: pemahaman kebahasaan dari sebuah teks, dan pemahaman psikologis terhadap pengarang teks. Karena itulah hermeneutika ini disebut juga dengan hermeneutika romantis. Willhem Dilthey kemudian mengkritik pendahulunya, Schleiermacher, Menurutnya, manusia tidak sekedar makhluk bahasa, yang hanya mendengar, menulis dan membaca untuk kemudian mehamami dan menafsirkan. namun
lebih dari itu, manusia merupakan makhluk eksistensial, yang memahami dan menafsirkan
dalam setiap aspek kehidupannya, dimana ekspresi kebahasaan adalah hasil dari pengalaman penutur bahasa. Sisi psikologi manusia tidak dapat dipisahkan dari sisi “eksternal-nya”, karena manusia adalah produk sistem sosial. Hermeneutika pada dasarnya bersifat menyejarah, yang berarti bahwa makna itu sendiri tidak pernah “berhenti pada satu masa saja”, tetapi selalu berubah menurut modifikasi sejarah. Hermenetika Dilthey ini kemudian disebut dengan hermeneutika metodis. Sementara itu, Husserl menawarkan fenomenologi untuk melacak keteraturan sistemik dalam persepsi dan pemahaman melalui kepastian terhadap pengetahuan dunia objektif. Yaitu dengan cara menerima apa yang sebenarnya terlihat dalam fenomena, dan menggambarkannya secara jujur. Untuk bisa memahami teks Husserl harus menghilangkan prasangka dan membiarkan teks berbicara sendiri. Haidegger sebaliknya justru menentang hermeneutika fenomenologi Husserl, yang mengharuskan netralitas penafsir. Menurutnya, pemahaman harus didahului dengan prasangka-prasangka akan objek. Murid Heidegger, H. G. Gadamer, berpendapat bahwa pemahaman yang benar terhadap teks akan dapat dicapai malalui dialektika dengan mengajukan banyak pertanyaan. Hermeneutika Gadamer disebut juga dengan hermeneutika dialogis. Gadamer lah yang mengembangkan hermenutika teori menjadi filsafat. Setelah itu muncullah hermeneutika jenis baru yaitu hermeneutika kritis dengan tokoh-tokohnya seperti Jurgen Habermas dan Jacques Derrida.

Demikianlah banyaknya jenis-jenis hermeneutika dengan berbagai ide tokoh- tokohnya untuk dapat memahami teks, dan jenis-jenis tersebut tentunya bukanlah produk final, tapi masih terbuka kemungkinan untuk munculnya bermacam jenis lain. Variasi jenis tersebut sebetulnya menunjukkan spirit yang mendasari hermeneutika, yaitu semangat
pluralitas pemahaman. Semangat itu sebetulnya juga dimiliki oleh khazanah Islam dalam
konteks memahami ayat Alquran, terbukti dengan banyaknya jenis tafsir yang muncul
serta variasi penafsiran dalam tradisi Islam klasik. Metode memahami makna terdalam dari teks juga sebenarnya sudah ada dalam tradisi Islam, yaitu takwil, meskipun hanya terbatas pada ayat-ayat tertentu yang dianggap mempunyai makna yang ambigu. Maka sebenarnya hermeneutika pada taraf-taraf tertentu sudah dilakukan oleh intelektual muslim klasik hanya saja tafsir klasik belum berani menyentuh hal-hal yang sudah menjadi kesepakatan, seperti mengharamkan poligami, mengahalalkan perkawinan wanita muslimah dengan non-muslim, menyamakan bagian waris laki-laki dengan perempuan atau membolehkan kawin kontrak.

Sebenarnya mayoritas intelektual muslim atau bahkan umat Islam mainstream menerima perbedaan pendapat atau ikhtilaf karena itu adalah sebuah keniscayaan. Dalam menentukan sebuah hukum, misalnya, seorang mufti dibebaskan untuk berijtihad, dan ijtihadnya tetap dianggap baik meskipun ternyata salah. Ikhtilaf tersebut bisa saja tentang hal-hal yang berada pada wilayah furu' mau pun ushul, selama dia bukanlah masalah yang qath'i. Terkait dengan hermenutika, intelektual muslim terpecah menjadi tiga kelompok; menerimanya, menolaknya, menerima sebagiannya saja. Hal-hal yang menjadi sumber penolakan kelompok yang kontra biasanya berkisar pada asal-usul hermeneutika yang bukan dari lingkungan Islam, pengabaian sifat transenden teks, dan pemahaman yang serba benar.

Alasan yang paling konyol terhadap penolakan hermeneutika adalah bahwasanya dia berasal dari barat. Nampaknya penolakan ini didasari oleh semangat anti barat, sehingga apa yang berasal dari barat atau mengandung nilai-nilai budaya barat akan ditolak tanpa harus menimbang lagi manfaatnya. Sikap ini muncul awalnya adalah sebagai reaksi atas modernisme barat, penolakan atas modernitas itu kemudian bergeser menjadi anti barat. Sikap ini memang biasanya ada pada kelompok yang menyebut diri mereka muslim fundamentalis.

Alasan lain adalah bahwa dalam hermeneutika penafsir bisa mengetahui makna lebih baik dari pembuat teks. Pernyataan ini muncul dari Dilthey, bila aspek sejarah dipertimbangkan lebih mendalam maka penafsir bisa merekonstruksi makna lebih baik dari
pengarangnya sendiri. Hal ini hanya mungkin applicable terhadap teks-teks selain Alquran, karena pengarang Alquran (Allah) tidak mungkin tidak memahami isi Alquran, Alquran sampai kepada Nabi Muhammad dalam bahasa Arab yang masih exist sampai sekarang, tanpa perlu juga menerjemahkannya dari bahasa tuhan ke bahasa Arab. Berbeda dengan Perjanjian Lama yang bahasa aslinya sudah punah, atau Bible yang penulisnya mendapat inspirasi dari roh kudus, seperti Markus, Yohanes, Matius dan lain-lain. Bagi keduanya, pembaca memungkinkan mengetahui teks yang ada sekarang ini lebih baik dari penulisnya. Oleh karenanya, Yunahar, salah satu ketua PP Muhammadiyah menyatakan bahwa hermeneutika
tidak cocok dipakai untuk memahami Alquran.

Sikap kritis hermeneut yang curiga bahwa teks tidak pernah lepas dari kepentingan-
kepentingan tertentu juga tidak cocok dikenakan pada teks Alquran, karena seperti yang telah diterangkan di atas, Alquran secara lafaz dan makna berasal dari Allah (lafzhan wa ma'nan minallah). Sayangnya, beberapa sarjana muslim pendukung hermeneutika justru menolak ini, agar hermeneutika bisa diterapkan pada Alquran. Mereka menolak teks dan makna Alquran berasal dari Tuhan. Menurut mereka, makna Alquran memang berasal dari tuhan, namun teks yang sampai ke kita adalah buatan manusia yang tak terlepas dari kungkungan budaya. Sebagian lain beranggapan bahwa teks dan makna berasal dari tuhan, namun manusia tak mempunyai kemampuan untuk menangkap makna dari tuhan yang absolut dan tak terhingga itu. Oleh karena itu perbedaan dalam memahami teks untuk mendapatkan makna tuhan jamak adanya, sehingga tidak ada yang berada pada posisi benar-benar salah atau yang pasti benar, dengan sendirinya kebenaran menjadi sangat relatif.

Pernyataan sebagian hermeneut muslim bahwa Alquran adalah produk budaya, seperti Nashr Hamid Abu Zaid, Arkoun, Bassam Tibi, Fazlur Rahman, ditentang keras oleh intelektual muslim mainstream. Nashr sendiri terpaksa meninggalkan Mesir karena di sana beliau dianggap murtad dan harus bercerai dengan istrinya. Sedikit berbeda dengan rekan-rekannya, hermeneutika Muhammad Shahrur bisa dikatakan selamat dari masalah transendensi Alquran, berkat teori inzal dan tanzilnya. Menurutnya turunnya Alquran melewati dua proses ini, inzal, yaitu turunya Alquran yang dalam bahasa Tuhan ke
lauhul mahfuz, setelah itu proses tanzil, yaitu turunnya Alquran yang dalam bahasa Arab ke Nabi Muhammad, dan ia tidak punya peran apa-apa dalam membentuk teks bahasa Arab
tersebut. Ini bersesuaian dengan pemahaman mainstream yang mengatakan bahwa teks dan
makna berasal dari Tuhan, bahkan susunan Alquran pun sudah ditertibkan Allah, bukan
manusia. Oleh karenanya teks Alquran menjadi sakral dan membacanya saja tanpa pengertian sudah dihitung ibadah. Berbeda dengan sebagian hermeneut yang mengabaikan sakralitas teks, Shahrur justru mendukung kesakralan teks, menurutnya teks yang sakral itu lah yang dimaksud dengan al-Dzikr. Dalam shalat, teks yang sakral ini lah yang harus dibaca, tidak boleh diganti dengan yang lain, meski tanpa pengertian tentang teks tersebut, shalat tetap menjadi sah. Menurut analisa penulis, beberapa ciri khas hermeneutika produk intelektual muslim yang kontroversial tidak ada pada karya Shahrur, seperti demitologi, dan menghilangkan sakralitas kitab suci, namun sebagai karya hermeneutis tentu dia tak terlepas dari kontekstualisasi, itu pun terbatas pada hukum-hukum had yang zhanni dilalah, dan terbatas pula dalam wilayah diantara batas hukum maksimal dan minimal.

Rasanya memang terlalu mengecilkan kekuasaan Tuhan bila kita berpendapat bahwa Tuhan butuh manusia yang bisa menafsirkan bahasa Tuhan ke dalam bahasa yang dimengerti manusia sedangkan Tuhan maha kuasa. Bahasa Arab bukanlah hal yang terlalu sulit bagi Tuhan. Mudah saja baginya untuk membuatkan teks yang langsung dalam bahasa manusia (bahasa Arab). Tahapan dalam turunnya Alquran bukanlah berarti Tuhan tidak bisa menurunkannya dalam sekali waktu. Alquran diturunkan bertahap agar manusia bisa mengingatnya, mudah memahaminya karena disesuaikan dengan kebutuhan turun dan sebab
turunnya. Alangkah naïfnya kita bila beranggapan bahwa budaya lah yang membentuk

Kembali pada kenyataan bahwa hermeneutika Shahrur dalam beberapa hal berbeda
dengan yang lainnya, Fazlur Rahman juga berbeda dalam beberapa hal dengan yang
lainnya, menunjukkan bahwa hermenutika sebagai produk memang tidak sama dan berbeda-
beda. Bila kita bisa sependapat dengan Faiz, untuk melihat hermeneutika bisa dibedakan
antara sebagai alat dan produk, mungkin kita bisa menerima hermeneutika sebagai alat
yang tentunya bebas nilai. Mungkin malah kita pun bisa memilah-milah dan menerima
sebagian dan menolak sebagian produk hermeneutika. Jadi hermeneutika yang merupakan
alat tentunya tidak bertentangan dengan Islam, karena semua tergantung dari pemakai alat tersebut, dan hermeneutika sebagai produk tentu tidak semuanya salah sehingga kita juga bisa menerima sebagiannya. Sayangnya, sebagian dari kelompok yang kontra pun tak bisa menerima bahwa hermeneutika sebagai alat adalah free value. Mungkin memang masih
perlu kajian yang lebih mendalam untuk menempatkan apakah sebuah metode semacam hermeneutika adalah value-laden atau kah value-free. Masalah ini saja umat Islam tidak bisa menentukan apakah metode bisa bebas nilai seperti posisi ilmu, meskipun diperoleh dari luar Islam, atau kah dia tetap membawa nilai-nilai yang tidak Islami.

Hamid Fahmi Zarkasyi adalah salah satunya yang tidak bisa menerima hermeneutika, meskipun sebagai alat, bukan produk. Menurut beliau hermeneutika tidak bisa lepas dari
tiga pengaruh; (1) Milieu masyarakat yang terpengaruh oleh pemikiran Yunani. (2) Milieu
masyarakat Yahudi dan Nasrani yang menghadapi masalah teks kitab suci agama mereka dan berupaya mencari model yang cocok untuk interpretasi yang dimaksud. (3) Milieu masyarakat Eropa pada zaman pencerahan yang berusaha lepas dari otoritas keagamaan dan
membawa hermeneutika keluar dari konteks keagamaan. Zarkasyi menyimpulkan bahwa heremeneutika dengan kedua genrenya, alegoris dan gramatikal adalah metode pemahaman
yang merupakan produk kebudayaan Yunani. Karenanya dipandang tidak bebas nilai.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada Zarkasyi, penulis merasa beliau terlalu berlebihan menilai hermeneutika. Hermeneutika sebagai sebuah alat tentunya tidak dipengaruhi oleh budaya mana pun sebagai mana ilmu biologi, matematika, atau pun fisika yang tidak dipengaruhi oleh budaya mana pun. Namun, sebagai produk, bahkan ilmu-ilmu tersebut diatas pernah berkaitan dengan mitos dan budaya tertentu, seperti paham yang mengatakan bahwa bumi datar, matahari mengelilingi bumi dan sebagainya. Sebenarnya setiap ilmu tak lepas dari sejarahnya masing-masing, namun dalam perjalanan sejarahnya dia melepaskan pengaruh budaya dan berjalan menuju arah yang lebih murni. Tak bedanya dengan hermeneutika, metode itu terus berkembang dan berjalan menuju kemurnian, tak perduli dari mana dia berasal. Terlepas dari itu semua, metode gramatikal dan alegoris bukanlah hal baru dalam khazanah tafsir klasik, sehingga agak aneh kalau beliau alergi dengan kedua metode itu.

Penulis sendiri tidak berada pada posisi sebagai pendukung hermeneutika secara totalitas, dan bukan juga termasuk yang kontra secara membabi buta. Beberapa pandangan
Ahmad Khan, Maulana Azad, Nashr, Arkoun, Hassan Hanafi, al-Jabiri, Fazlur Rahman,
Shahrur dan hermeneut muslim lainnya tidak bisa penulis terima terutama yang berkaitan
dengan wilayah qath'I dilalah. Namun, sebagian dari ide-ide baru mereka tentunya tidak
bertentangan dengan ajaran pokok agama Islam dan sebagian idenya lagi menggugah selera
untuk dikaji lebih lanjut. Terlepas dari itu semua, hermeneutika meniscayakan adanya
beberapa teori untuk diaplikasikan ke dalam penafsiran al-Qur’an. Pertama, teori kesadaran sejarah dan teori pra-pemahaman dan kehati-hatian dalam menafsirkan teks al-Qur’an; kedua, teori fusion of horizons, horizon teks (studi atas apa yang ada dalam teks dan apa yang melingkupi teks) dan horizon penafsir (reaktualisasi dari nilai yang terkandung); ketiga, teori aplikasi (Anwendung) dan interpretasi ma’na cum-maghza (maqasid al-syari'ah).

2 comments:

free driver software downloads mengatakan...

APAPUN YANG BERSUMBER DARI NEGARA-NEGARA BARAT, ADALAH GEMBAR-GEMBOR DARIPADA KAUM LIBERALISME. DIMANA KEBEBASAN HIDUP MENJADI TUJUAN UTAMANYA (KEBEBASAN MENURUTI HAWA NAFSU, TIDAK TUNDUK TERHADAP ATURAN TUHAN, YANG SELALU MENYANDARKAN SEGALA SESUATU PADA KEKUATAN DAN AKAL FIKIRAN. DAN TIDAK PERNAH SADAR AKAN KETERBATASANNYA SEBAGAI MANUSIA). MEREKA SELALU MEMPROPAGANDAKAN BAHWA MEREKALAH YANG TERKUAT, MEREKA YANG PALING BENAR, DAN PALING SEGALA-GALANYA BAHKAN BERUSAHA MENGALAHKAN APA YANG TELAH DIGARISKAN TUHAN DALAM ATURAN AGAMA. APA YANG MEREKA USAHAKAN DAN RENCANAKAN PENUH DENGAN KETIDAK PASTIAN DAN UNSUR KEPENTINGAN PRIBADI SEMATA,DAN TIDAK AKAN PERNAH SAMPAI PADA KEBENARAN YANG HAKIKI, SEDANGKAN DALAM ISLAM (YANG BERPEGANG KEPADA AL QUR'AN, AS SUNAH DAN IJMA, KEBENARAN YANG TIDAK PERNAH TERKALAHKAN ATAUPUN TERGOYAHKAN TERBUKTI SELAMA BERABAD-ABAD LAMANYA DAN AKAN BERLAKU SAMPAI AKHIR ZAMAN. WASPADA TERHADAP PROPAGANDA KAUM BARAT

free driver software downloads mengatakan...

APAPUN YANG BERSUMBER DARI NEGARA-NEGARA BARAT, ADALAH GEMBAR-GEMBOR DARIPADA KAUM LIBERALISME. DIMANA KEBEBASAN HIDUP MENJADI TUJUAN UTAMANYA (KEBEBASAN MENURUTI HAWA NAFSU, TIDAK TUNDUK TERHADAP ATURAN TUHAN, YANG SELALU MENYANDARKAN SEGALA SESUATU PADA KEKUATAN DAN AKAL FIKIRAN. DAN TIDAK PERNAH SADAR AKAN KETERBATASANNYA SEBAGAI MANUSIA). MEREKA SELALU MEMPROPAGANDAKAN BAHWA MEREKALAH YANG TERKUAT, MEREKA YANG PALING BENAR, DAN PALING SEGALA-GALANYA BAHKAN BERUSAHA MENGALAHKAN APA YANG TELAH DIGARISKAN TUHAN DALAM ATURAN AGAMA. APA YANG MEREKA USAHAKAN DAN RENCANAKAN PENUH DENGAN KETIDAK PASTIAN DAN UNSUR KEPENTINGAN PRIBADI SEMATA,DAN TIDAK AKAN PERNAH SAMPAI PADA KEBENARAN YANG HAKIKI, SEDANGKAN DALAM ISLAM (YANG BERPEGANG KEPADA AL QUR'AN, AS SUNAH DAN IJMA, KEBENARAN YANG TIDAK PERNAH TERKALAHKAN ATAUPUN TERGOYAHKAN TERBUKTI SELAMA BERABAD-ABAD LAMANYA DAN AKAN BERLAKU SAMPAI AKHIR ZAMAN. WASPADA TERHADAP PROPAGANDA KAUM BARAT