Pembekalan PPL Tahun 2012

Yaser Amri, MA (kanan) saat memberikan materi pada kegiatan Pembekalan Mahasiswa PPL Tahun 2012.

Gedung Tarbiyah

Gedung Tarbiyah STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa yang mulai digunakan pada Tahun 2011 lalu.

Gedung Dakwah

Gedung Tarbiyah STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa yang mulai digunakan pada Tahun 2013.

Gedung STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa

STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa merupakan perguruan tinggi satu-satunya yang berprediket Negeri di Kota Langsa

International Conference

Pose ketika mengikuti Konferensi Internasional di STAIN ZCK dan AICIS

Selasa, 06 Mei 2014

Tugas dan soal midterm PBA Semester IV

Kirim jawaban tugas ke tugaspba@yahoo.co.id dan kumpulkan jawaban midterm (tulis tangan) selambat-lambatnya 2 minggu sejak soal ini diposting.

Tugas:

Jawablah 5 saja dari pertanyaan berikut!

1. Khabar "inna" sesungguhnya adalah khabar mubtada' yang didahului dengan inna atau salah satu dari keluarga inna i.e. anna, ka'anna, lakinna, la'alla, layta dan la. Sebutkan setiap makna yang dikandung oleh inna dan keluarganya!

2. Sebutkan anwa'/macam2 khabar inna !

3. Inna yang maksurah dan anna yang maftuhah mengandung makna yang sama. Perbedaan dari keduanya adalah pada penempatan kedua kata tersebut dalam kalimat/jumlah. Jelaskan dengan rinci tentang perbedaan antara keduanya!

4. Apa yang dimaksud dengan taukid? Jelaskan perbedaan antara taukid lafzi dan taukid maknawi!

5. Apa yang dimaksud dengan na'at? Jelaskan perbedaan na'at haqiqi dengan na'at sababi!

6. Apa yang dimaksud dengan 'athaf? Sebutkan huruf-huruf 'athaf beserta makna yang dikandungnya masing-masing!

7. Apa yang dimaksud dengan badal? Jelaskan perbedaan antara badal muthabiq, badal juz'i dan badal isytimal!


Soal Midterm:

اجب عن الأسئلة الآتية !
١. متى يكون تقديم خبر إن جائزا و متى يكون واجبا ؟ هات مثالا لكل !
٢. اكتب تعريف عن المفعول المطلق مع اتيان مثال !
٣. ما الفرق بين واو المعية و واو العطف؟ اشرح بمثال منهما !

شكل و اعرب ثم ترجم عبارتين من اربع العبارات الآتية !
١. كأنما الطلاب فاهمون
٢. جاء رجلان فاضلة أخواتهما
٣. سرنا يدا بيد محافظة الأخوة
٤. كرّم هذا الخليفة العلماء

Selasa, 03 Desember 2013

SOAL MIDTERM AMDI (take home) Sem. 7 unit 1&3 PAI

Buatlah catatan tentang pembaharuan, kontribusi dan karya  tokoh-tokoh berikut!. Pilih 3 tokoh saja!. Tiap tokoh menghabiskan sedikitnya 2/3 halaman A4.

1. Muhammad Ali Pasha
2.Jamaluddin al-Afghani
3. Muhammad Abduh
4. Toha Husain
5. Mustafa Kemal

NB
  • Jawaban dikirimkan melalui email ke yaser.amri@gmail.com selambat-lambatnya 3 minggu sejak soal ini dipublish.
  • Jawaban ditulis dengan font Times New Roman, font size 12. Spasi 1.5.
  • Jangan lupa menuliskan data anda. Jawaban yang tidak diketahui nama pemiliknya (sesuai absen) tidak diperiksa.
  •  Jawaban yang terindikasi mencontek atau hasil copy and paste, berisiko tidak dinilai!

Trims.

Kamis, 18 April 2013

PEMIKIRAN SUKARNO TENTANG ISLAM


A. PENDAHULUAN

Sukarno adalah tokoh yang spektakuler, berpengetahuan luas, berani dan revolusionis, setidaknya itulah yang terlihat dari pidato-pidatonya yang berapi-api dan menghipnotis. Berbicara tentang Sukarno adalah berbicara tentang berdirinya Indonesia, karena beliau adalah tokoh sentral dalam sejarah kemerdekaan Indonesia dan salah satu dari The Founding Fathers. Yang menarik dari Sukarno adalah ide-ide politiknya yang brilian, yang muncul dari keluasan pengetahuannya. Sebagai seorang nasionalis sejati, beliau seperti Gajahmada, ingin menyatukan wilayah Nusantara yang beliau sebut sebagai nation staat. Untuk bisa menyatukan wilayah nusantara yang berbeda-beda kultur ini, harus bisa mengakomodir semua perbedaan, bahkan yang bertolak belakang. Agar Republik Indonesia bisa diterima oleh semua pihak, maka beliau meramu sebuah ideologi yang menampung perbedaan-perbedaan itu. Maka munculah istilah Nasionalisme Indonesia, Sosialisme Indonesia, Marhaenisme, Pancasila.

Sukarno adalah pemimpin yang multi talenta, selain mumpuni dalam urusan orasi, politik, fashion, beliau juga "jempolan" dalam bertango. Beliau mempunyai apresiasi seni yang tinggi, dan sangat mencintai keindahan, termasuk keindahan dalam kecantikan wanita. Di balik cerita heroiknya, Sukarno tetaplah manusia yang bisa salah. Bagaimanapun pandainya dia membuat konsep sebuah negara – dengan gagasan sosialisme demokratiknya – toh pada praktiknya tak seindah konsep yang ditawarkan. Konsep negara yang ditawarkannya adalah sebuah negara yang tidak ada orang miskin di dalamnya. Negara yang menjanjikan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Tapi apa lacur, negara yang ia pimpin, hampir bangkrut total di tahun 1965, diikuti oleh berbagai demonstrasi yang berakhir dengan terlepasnya jabatan presiden.
 
Makalah ini mencoba mengupas pemikiran-pemikiran beliau dengan memulainya dari riwayat hidup Bung Karno, filsafat negara, serta pemikiran keagamaan beliau, yang sedikit atau banyak pasti mempengaruhi pandangan politik beliau. Pandangannya tentang akhirat, pasti juga mempengaruhi pandangannya tentang dunia.


B. RIWAYAT HIDUP BUNG KARNO
Ir. Sukarno dilahirkan dengan nama Koesno Sosrodihardjo di  Surabaya , namun karena sering sakit-sakitan maka namanya diubah oleh ayahnya menjadi Soekarno. Nama tersebut diambil dari nama tokoh pewayangan Adipati Karna.  Sukarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam.

Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah ke Mojokerto, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut. Di Mojokerto, ayahnya memasukan Sukarno ke Eerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja. Kemudian pada Juni 1911 Sukarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hoogere Burger School (HBS). Pada tahun 1915, Sukarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS. di Surabaya, Jawa Timur. Ia kemudian tinggal di rumah teman bapaknya HOS Cokroaminoto. Di Surabaya, Sukarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Cokroaminoto saat itu, seperti Alimin, Musso, Dharsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis.

Tamat H.B.S. tahun 1920, Sukarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Sukarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Cokroaminoto. Di sana ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.

Pada bulan Juli 1932, Sukarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Sukarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini ia punya kesempatan memperdalam Islam lewat buku dan surat-suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan. Ia kemudian diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1938 – 1942. Sukarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, Sukarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kemerdekaan tersebut diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Di kancah politik internasional Presiden Sukarno mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila. Kebenciannya pada imperialism berpuncak pada munculnya ide non-alignment movement. Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok.

Sifat beliau yang akomodatif dan ingin merangkul semua pihak, termasuk komunis, membuahkan hasil negatif. Setelah peristiwa GESTAPU keadaan politik Indonesia semakin tidak menentu. Ini adalah turning point dari keruntuhan Sukarno. Pidato  pertanggungjawaban mengenai sikapnya terhadap peristiwa G30S pada Sidang Umum ke-IV MPRS ditolak. Pidato tersebut berjudul "Nawaksara" dan dibacakan pada 22 Juni 1966. Pidato "Pelengkap Nawaskara" pun disampaikan oleh Sukarno pada 10 Januari 1967 namun kemudian ditolak lagi oleh MPRS pada 16 Februari tahun yang sama.

Ia akhirnya meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta dengan status sebagai tahanan politik. Pemerintahan Presiden Soeharto memilih Kota Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Sukarno. Hal tersebut ditetapkan lewat Keppres RI No. 44 tahun 1970. Jenazah Sukarno dibawa ke Blitar sehari setelah kematiannya dan dimakamkan keesokan harinya bersebelahan dengan makam ibunya.
   
C. PEMIKIRAN BUNG KARNO TENTANG FILSAFAT NEGARA
1. Negara Kebangsaan
Konsep negara kebangsaan disampaikan Sukarno secara spontan pada 1 Juni 1945 di depan Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan. Sukarno berusaha keras menentang gagasan didirikannya Negara Islam, sebagai gantinya beliau menawarkan Negara Kebangsaan yang didasarkan pada 5 sila. Kebangsaan yang dimaksud bukan kebangsaan dalam arti sempit, namun yang dikehendakinya adalah satu Nationale Staat.

Sebelumnya pemahaman Sukarno tentang bangsa selalu merujuk pada teori yang dikemukakan Ernest Renan atau Otto Bauer. Bahwa syarat terciptanya sebuah bangsa adalah adanya persamaan nasib dan kehendak untuk bersatu. Teori yang sama juga pernah disampaikan Prof. Supomo dalam sidang BPPK sebelumnya, namun Mr. Yamin menyebutnya “verouderd”, outdated, sudah tua. Maka pada kesempatan ini Sukarno menyampaikan pemahamannya yang baru tentang kebangsaan.

Renan dan Otto hanya berbicara tentang orang, mereka hanya mengingat karakter manusia, tapi tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi yang didiami manusia itu. Hal ini disebabkan karena pada masa mereka belum berkembang ilmu baru, yang dinamakan Geopolitik. Orang dan tempat tak dapat dipisahkan. Tempat yang dimaksud adalah tanah air yang merupakan satu kesatuan. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan di mana kesatuan-kesatuan itu. “Seorang anak kecil pun jikalau ia melihat peta dunia, ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kepuluan”, ujarnya. Ia kemudian menambahkan, “Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau-pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Selebes, Halmahera, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan lain-lain pulau kecil di antaranya, adalah satu kesatuan”.  Menurut beliau, Indonesia pernah merupakan negara nationale staat pada zaman Sri Wijaya dan Majapahit.

Dalam sidang ini Sukarno menawarkan pancasila dengan kebangsaan sebagai prinsip pertama,  disusul kemudian secara berurutan dengan internationalism, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan. Kenapa lima? Sukarno mengatakan Rukun Islam 5 jumlahnya, panca indera juga lima bilangannya, Pandawa Lima pun lima orangnya. Atau kalau ada yang tak suka dengan angka 5, Sukarno bersedia memerasnya menjadi 3 saja. Kebangsaan dan internationalism diperas menjadi socio-nationalisme. Mufakat dan kesejahteraan diperas menjadi satu yaitu socio-democratie. Yang satu lagi adalah ketuhanan yang menghormati satu sama lain. Tapi bila ada yang tidak suka dengan trisila, Sukarno bisa memerasnya menjadi satu, yaitu “gotong royong”.

2. Negara dan agama
Dalam Majelis Konstituante pada mulanya ada 3 rancangan dasar negara yang diusulkan: Pancasila, Islam dan Sosial-Ekonomi. Sukarno mengusulkan Pancasila dan menolak Islam sebagai dasar negara. Di pihak yang berseberangan Natsir mengusulkan Islam sebagai dasar negara karena masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam. Bagi Natsir dasar negara hanya mempunyai dua pilihan, sekuler atau agamis. Corak pancasila menurutnya adalah sekuler, karena tidak mengakui wahyu sebagai sumber.  Hamka juga menginginkan Islam sebagai dasar negara. Menurutnya negara berdasar Islam adalah cita-cita sejak lama seluruh gerakan Islam di Indonesia. Ia menyebutkan beberapa nama pahlawan kemerdekaan seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Cik di Tiro, Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin dll. Osman Raliby berkomentar tentang Pancasila, bahwa tuhan dalam Pancasila ialah tuhan yang mati, yang tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap 4 sila lainnya. Ia tidak memberikan hukum sama sekali, malah jika Pancasila diperas, tuhan itu sendiri yang kena hukum, hilang lenyap ditelan oleh gotong –royong.

Kendatipun Natsir beranggapan Pancasila adalah sekuler, bagi Abdulgani, Islam adalah sumber Pacasila. Menurutnya, sila Ketuhanan yang Maha Esa tidak dapat disamakan dengan konsep sekuler. Natsir dan pendukungnya menurut Abdulgani telah terjebak dalam kekacauan semantik. Sementara Sutan Takdir Alisyahbana menilai pancasila hanyalah kumpulan faham-faham yang berbeda-beda untuk menenteramkan semua golongan. Sila-silanya bersifat heterogen, bahkan tak lepas dari kontradiksi dalam dirinya. Pancasila baru dapat diterima oleh umat Islam Indonesia setelah ditafsirkan oleh Hatta, seorang negarawan Muslim yang moralis.

Bagaimanakah sebenarnya Sukarno melihat agama dan negara?. Apakah ia sepaham dengan Hatta dalam menafsirkan Pancasila?. Tidak dapat dielakkan bahwa Sukarno memisahkan antara agama dan negara, sehingga dengan begitu berarti ia adalah seorang yang sekularis. Pandangan sekulernya tampaknya dipengaruhi oleh tokoh idolanya, Mustafa Kemal Attaturk, seorang nasionalis yang sekuler. Beliau mengutip kata-kata Kemal, “Saya merdekakan Islam dari ikatannya negara, agar supaya agama Islam bukan tinggal agama memutar tasbih di dalam mesjid saja, tetapi menjadilah satu gerakan yang membawa kepada perjuangan”. Kemerdekaan agama dari ikatan negara maksudnya adalah memerdekakan agama dari ikatan-ikatan yang menghalanginya untuk tumbuh subur, yaitu ikatan negara, ikatan pemerintah, ikatan pemegang kekuasaan yang zalim dan sempit fikiran. Begitu juga sebaliknya negara dimerdekakan dari ikatan anggapan-anggapan agama yang jumud, hukum-hukum dan tradisi Islam yang kolot yang sebenarnya bertentangan dengan jiwa Islam sejati. “saya merdekakan Islam dari negara, agar Islam bisa kuat, dan saya merdekakan negara dari agama agar negara bisa kuat.

Apa pun alasannya, memisahkan agama dan negara adalah paham sekularisme. Tapi bukan berarti seorang yang sekularis kemudian tidak mempunyai semangat membela agamanya. Meskipun agama dipisahkan dari negara, "tapi kita akan membakar seluruh rakyat dengan apinya Islam, sampai setiap utusan dalam parlemen itu seorang Islam, dan setiap putusan parlemen diresapi oleh semangat dan jiwanya Islam", ucapnya. Ia mengharapkan parlemen terisi oleh orang-orang Islam, 60%, 70%, 80%, 90%, sehingga mampu mewarnai keputusan parlemen dengan warna Islam. Entah itu sungguh-sungguh keluar dari hatinya yang paling dalam, atau hanya ungkapan politis, sebagai penghibur umat Islam yang sudah kecewa.  Tapi yang pasti, harapan Sukarno parlemen berwarna Islam apabilanya isinya 90% Islam tak pernah terwujud sampai sekarang.


D. PEMIKIRAN KEAGAMAAN SUKARNO
Seberapa jauhkah Islam Sukarno? Beberapa ahli agama Islam mengatakan bahwa Sukarno adalah seorang yang berfaham sinkretis Jawa, dan bahwa sinkretisme adalah musuh besar agama. Namun semuanya setuju bahwa Sukarno mempunyai watak keagamaan yang mendalam.

Beliau terlahir ditengah keluarga yang tidak terlalu agamis. Ibunya adalah seorang Hindu, dan ayahnya adalah seorang Muslim yang menurut beliau sendiri Islamnya adalah Islam-islaman. Namun sejak kecil orang tuanya menekankan kepercayaan pada Tuhan. Ayahnya mengingatkan agar dia jangan lupa pada Gusti Kang Maha Suci, dan ibunya juga mengingatkan agar dia jangan lupa Sang Hyang Widi. Dari sini kita bisa menilai bahwa pengetahuan agama yang diberikan orang tuanya tidaklah terlalu mendalam. Namun Sukarno telah bersentuhan dengan tokoh-tokoh Islam yang nampaknya dari merekalah beliau banyak belajar. HOS Cokroaminoto adalah teman ayahnya yang banyak mempengaruhinya. Sukarno adalah anggota Muhammadiyah sampai ajalnya,  dan sering mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan organisasi ini. Mulai dari situ benih Islam modernis pun tertanam dalam dirinya. Beliau juga mengagumi M. Natsir, dan mereka sering berdialog tentang agama, sebelum akhirnya mereka berselisih.

Pengasingannya di Flores adalah turning point dari sikap keIslamannya. Beliau selalu berkirim surat dengan A. Hassan dan banyak belajar dari beliau. Surat-surat itu kemudian dibukukan dengan judul Surat Islam dari Endeh, yang kemudian tercakup di dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi. Buku Amir Ali yang berjudul Spirit of Islam  sangat mempengaruhi pandangan keIslamannya. Buku-buku lain tentang tokoh-tokoh Islam reformis pun dilahapnya. Akumulasi dari semua itu adalah pemahamannya tentang Muslim sekarang yang tertinggal jauh dari barat karena sikap taqlid mereka. Dia menganalogikan dengan masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal terbang.  Bahwa hukum-hukum Islam yang sekarang hanya cocok dipakai di zaman onta, tidak lagi pada zaman kapal terbang sekarang. Bahwa umat Islam telah tertinggal 1000 tahun, maka harus mengejar 1000 tahun itu, bukannya kembali kepada kegemilangan 1000 tahun yang lalu. Bahwa umat Islam telah kehilangan roh keIslamannya, mereka hanya mendapatkan "abu" Islam, bukan "api"nya. Bahwa Islam sontoloyo adalah Islam jumud yang taqlid pada ulama-ulama kolot yang menurutnya belum tentu pikirannya cocok dengan zaman sekarang.

Sukarno menguasai sejarah dan sangat berpegang pada semangat keIslaman, tapi tidak pada furuiyah. Sayangnya, beliau memang tidak mengusai bidang fiqh, dan ilmu-ilmu keIslaman yang lain sehingga inilah yang yang membuatnya berbeda dengan kalangan santri. Dia menolak hukum Islam yang kolot, namun dia sendiri sebetulnya belum mengerti hukum Islam itu bagaimana. Hal ini terlihat dari diskusinya dengan A Hassan dalam Surat Islam dari Endeh. Beliau sangat berkeinginan mempelajari hadis Bukhari, namun sayang A. Hassan tidak menemukan kitab Bukhari dalam bahasa yang bisa dimengerti Sukarno. Satu hal lagi yang menurut dia Islamnya mungkin berbeda dengan orang Islam pada umumnya, bahwa dia adalah Monotheis yang pantheistis. Penjelasan tentang itu ia samapaikan dalam sebuah pidatonya yang berjudul "Tauhid adalah Jiwaku". 
"….Jadi, apakah Tuhan itu adalah zat yang berada di singgasana di atas langit sana? Suatu zat di langit, apa yang disebut orang sebagai "Tuhan yang Mempribadi"? Jika ia hanya hidup di atas sana, maka ia bersifat terbatas. Bukankah demikian? …. Juga jika tuhan hanya mempunyai dua puluh sifat, maka Tuhan ini juga terbatas… Bhagavad Gita mengatakan – aku tidak peduli apakah nyanyian itu benar atau tidak – Bhagavad Gita berkata, 'Aku ada di dalam api. Aku ada di dalam panasnya api; aku ada di bulan, aku ada dalam sinarnya bulan' ya, bahkan, 'aku ada dalam senyumnya seorang gadis', 'aku ada dalam awan, aku ada dalam iring-iringannya awan yang bergerak bersama-sama. Aku ada di dalam kegelapan. Aku ada dalam cahaya. Aku tanpa awal dan tanpa akhir'. Ini sesuai dengan pendapatku. Jadi dengan demikian, di manakah Tuhan? Apakah Tuhan itu di sana, hanya, hanya, hanya di sana, hanya di langit ketujuh? …. Aku ini seorang penganut monoteisme, tetapi aku adalah seorang penganut monoteisme yang panteistis".

Dalam pidatonya tersebut nampaknya Sukarno ingin menyampaikan pemahamannya tentang Tuhan. Bahwa tuhan yang ia imani adalah Tuhan yang bukan hanya bersifat transcendent, hanya menetap di 'arsy', hanya berada di atas sana, tapi juga Tuhan yang immanent, Tuhan yang juga hadir di sini, di bulan, di matahari, di bintang-bintang, di gunung, di dalam api, di semut, dan ada di mana-mana, di dalam semuanya tetapi ia satu. Satu tetapi meresapi segala sesuatu.  Memang banyak orang yang salah memahami immanentnya Tuhan dan terjerembab dalam pantheism. Bila Sukarno adalah salah satunya, maka tentunya ini dipengaruhi oleh ajaran Hindu, yang bisa jadi berasal dari ibunya.  Namun, penulis menduga Sukarno bukanlah penganut pantheism seperti yang ia sebutkan, karena pantheism tidak bisa sekaligus monotheism, keduanya adalah hal yang bertolak belakang. Kalau Sukarno mempercayai hanya satu Tuhan, maka tentulah yang ia maksud dengan Tuhan ada di mana-mana adalah sifat Tuhan yang immanent.

Sayangnya, untuk mengatakan beliau tidak pantheist pun ternyata bertolak belakang dengan beberapa sikapnya. Seperti pengakuannya bahwa mendatangi makam-makam dan meminta sesuatu adalah adat takhyul, namun secara jujur ia mengatakan bahwa ia melakukannya. Memohon sesuatu kepada selain Allah bukanlah sikap monotheist, kalau bukan polytheist, tentulah pantheist. Meminta sesuatu kepada roh yang sudah meninggal sudah jelas bukan tradisi tauhid, ini adalah tradisi Hindu dan Budha. Mungkin Sukarno punya alasan sendiri kenapa ia memohon di makam-makam. Atau malah ini menunjukkan bahwa beliau tidak begitu punya perhatian terhadap perilaku agamis. Yang beliau anggap penting nampaknya hanyalah spirit dan pemikiran, karena itulah yang dia anggap bisa memajukan bangsa. Dalam sebuah pidatonya di depan mahasiswa IAIN tanggal 2 Desember 1964, beliau mengatakan,
"…Bebaskanlah kamu punya pikiran dari suasana berpikir pesantren. Naiklah ke langit, seperti telah aku lakukan, dan lihatlah sekeliling! Dan jangan hanya melihat ke Saudi Arabia, ke Mekkah, ke Medinah, tetapi lihat ke Kairo, Spanyol, dan lihat ke seluruh dunia. Lihatlah sejarah, di masa lampau, sejarah masa lampau seluruh rakyat di muka bumi ini, bukan hanya sejarah rakyat Indonesia dan sejarah rakyat Arab, tetapi sejarah kemanusiaan! Hanya dengan begitulah kamu akan dapat melakukan apa yang disebut  studi perbandingan, dalam hal kalian, studi perbandingan agama, untuk membandingkan, membanding yang satu dengan yang lain.Bebaskan dirimu dari jiwa atau suasana atau iklim pesantren. Sekali lagi aku minta maaf, aku tidak bermaksud menghina. Aku telah membebaskan diriku dari dunia kebendaan ini yang tidak memberiku kepuasan, tidak ada kesenangan, dan telah naik mi'raj, mi'rajnya pikiran…"dunia pikiran". Artinya ialah aku biasa membaca buku-buku yang ditulis oleh orang di seluruh dunia… Di situlah aku bertemu dengan para pemikir, para pemikir seluruh bangsa."
   
Menurut Dahm, sebelum tahun 1934, Sukarno tidaklah demikian yakin menganut agama Islam. Meskipun ia mempunyai simpati yang mendasar terhadap agama, tetapi pengetahuan agamanya hanya sekedar yang dibutuhkan saja, yang terutama diangkatnya dari buku Lothrop Stoddard, "Dunia Baru Islam". Dan ia lebih terangsang dengan "dunia baru" itu daripada dengan "Islam" itu sendiri.


E. PENUTUP
Setelah menyelami pemikiran Sukarno tentang bangsa, bentuk negara, dasar negara, dan pemahamannya terhadap agama, kita bisa membuat sebuah kesimpulan bahwa beliau memang seorang negarawan tulen, politikus ulung, singa podium, seniman, nasionalis sejati, yang mempunyai wawasan pengetahuan yang luas dalam banyak hal, karena kesukaannya dalam membaca dan "membaca". Kemampuan seninya ia abadikan dalam bentuk monumen-monumen yang berdiri di berbagai lokasi di Ibu Kota, termasuk Master Piecenya, Monumen Nasional yang menjadi lambang Jakarta. Beliau adalah lambang perlawanan terhadap penjajahan, pembela wong cilik, pembela kaum tertindas, pembela kaum proletar.

Meski dalam sejarah kepemimpinannya beliau dianggap sebagai presiden yang gagal dalam mewujudkan cita-citanya, namun dia sudah memberikan kontribusi yang tak ternilai harganya bagi berdirinya sebuah negara yang diakui oleh masyarakat dunia. Nixon pernah menulis: "Sukarno adalah contoh terbaik yang saya kenal tentang seorang pemimpin revolusioner yang dengan ahlinya mampu menghancurkan suatu sistem, tetapi tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk membangunya kembali". Menurut Nixon, program Sukarno hanya dinilai positif dalam perjuangan membebaskan Indonesia dari kekuasaan kolonial. Lebih dari ini, "kekuasaannya adalah malapetaka bagi rakyat Indonesia". Pendapat Nixon tak sepenuhnya benar, bukan hanya dalam merobek sistem kolonial, tapi dalam membangun kesatuan Indonesia, beliau punya andil yang sangat besar.  Tentu saja Sukarno bukan malaikat yang tidak mempunyai sisi buruk. Sikap keras dan tau mau komprominya tentu tidak disukai banyak orang, kecenderungannya untuk otoriter dan mendikte orang lain juga adalah keburukan manusiawi yang sering muncul dalam pribadi seorang pemimpin.

Kesukaannya terhadap wanita dan sifat cassanova yang menempel padanya adalah hal negatif lain yang mendapat cibiran dari tidak hanya orang Indonesia tapi juga dunia. Media asing menyebutnya sebagai presiden yang tak tahan melihat rok wanita. Namun, menurut pengakuan istri-istri beliau, Sukarno adalah pecinta keindahan, termasuk keindahan yang ada dalam wanita. Mereka tidak menyukai sifat Sukarno ini, tapi mereka menghargai Sukarno sebagai orang yang berani menentang badai demi cintanya. Fatmawati mengatakan, meski Sukarno menyukai banyak wanita, namun dia bukanlah seorang hipokrit. Hartini mengatakan, meski Sukarno adalah pecinta wanita, namun cinta sejatinya sebetulnya hanya pada bangsanya, bukan wanita.


Mencermati kata-kata Hartini di atas, dalam konteks memahami pemikiran dan ideologi campur aduknya yang mengakomodir perbedaan, sebenarnya dapat ditarik benang merah dari semua itu yaitu cintanya terhadap bangsa, kebenciannya terhadap kolonialisme yang menyengsarakan bangsanya, akhirnya menumbuhkan kesadaran dan kebutuhan untuk bersatu melawan imperialism dan kapitalisme. Inilah semangat yang mendasari seluruh pemikiran Sukarno, termasuk pemahamannya terhadap agama.


DAFTAR PUSTAKA

Abdulgani,Roeslan. Perkembangan Tjita-tjita Sosialisme di Indonesia, (Malang: penerbitan Jajasan Perguruan Tinggi Malang, 1960)
Adams,Cindy. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (.Jakarta: Gunung Agung, 1984),
Aji, Achmad Wisnu Kudeta Supersemar: Penyerahan atau Perampasan Kekuasaan?. (Garasi House of Book, 2010)
Boland, B. J. Pergumulan Islam di Indonesia, terj. Saafroedin Bahar, (Jakarta: PT Grafiti Pers, 1985)
Dake, Antonie C. A. The Sukarno File 1965-1967, (Leiden – Boston: Brill, 2006)
Feith, Herbert dan Lance Castles. Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 1995)
Feith, Herbert. The decline of Constitutional Democracy in Indonesia, (London: Cornell University Press, 1973)
 http://kafeilmu.com
http://news.okezone.com
http://www.berdikarionline.com
http://www.nam.gov.za
http://www.trianda.herisonsurbakti.com
http://www.tribunnews.com, http://m.tempo.co
Kasenda,  Peter. Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2010)
Ma'arif, Ahmad Syafi'I. Islam dan Masalah Kenegaraan, (Jakarta: LP3ES, 1985)
Natsir,  Mohammad. Islam Sebagai Dasar Negara, (Bandung: Pimpinan Fraksi Masyumi dalam Konstituante, 1957)
 Sukarno. Dibawah Bendera Revolusi, Jilid Pertama, (Jakarta: Panitya Penerbit, 1963)
Suseno,Franz Magnis. Berfilsafat dari Konteks, (Gramedia Pustaka Utama, 1992)
__________________. Etika Sosial, (Jakarta: Gramedia, 1975)
Wolf Jr., Charles. The Indonesian Story( The Birth, Growth And Structure Of The Indonesian Republic),( New York: The John Day Company, 1948) 

Senin, 15 April 2013

BEBERAPA ISTILAH DALAM ILMU HADIS

Adil                             : Adil adalah kualitas seorang perawi. Seorang perawi dikatakan adil apabila ia memiliki sifat-sifat ketakwaan , seperti senantiasa melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangannya, akidahnya benar, terpelihara dari dosa besar, tidak membiasakan dosa kecil, akhlaknya terpelihara, serta menjaga muru'ah. Disamping itu tentu saja dia haruslah seorang muslim, baligh, berakal dan tidak fasik.
Ahad                           : Ahad berarti satu. Hadis ahad berarti hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat mutawatir, diriwayatkan oleh seorang perawi atau lebih. Bisa juga berarti hadis yang diriwayatkan oleh satu orang, dua orang atau lebih, tetapi tidak memenuhi syarat masyhur atau mutawatir.
Asbabul Wurud          : Ilmu yang menerangkan seputar sebab munculnya hadis.
Atsar                           : Sesuatu (riwayat) yang disandarkan kepada sahabat dan tabi'in, baik berupa perkataan ataupun perbuatan
Aziz                            : Hadis yang diriwayatkan oleh dua orang perawi dan diterima dari dua orang pula. Apabila dalam salah satu generasinya kurang dari dua perawi, berarti tidak termasuk dalam hadis aziz.
Dhabith                       : Orang yang kuat hafalannya terhadap sesuatu yang pernah didengarnya, kemudian mampu menyampaikan hafalan tersebut manakala diperlukan.
Dhaif                          : Hadis yang tidak terhimpun padanya ciri-ciri hadis sahih dan tidak pula hadis hasan.
Dirayah                       : Ilmu hadis dirayah adalah sekumpulan kaedah atau aturan dan permasalahan untuk mengetahui keadaan perawi dan yang diriwayatkannya dari segi dapat diterima atau ditolak.
Gharib                         : Hadis yang diriwayatkan hanya oleh seorang saja pada tempat manapun terjadinya penyendirian itu di dalam sanad. Tidak mesti pada semua generasi hanya ada seorang perawi, tapi bila terjadi pada satu generasi saja perawinya ada yang cuma seorang, maka dia termasuk hadis gharib.
Hadis                          : Sesuatu yang disandarkan kepada nabi baik perkataan, perbuatan, keadaan, pengakuan dan sifatnya.
Hasan                          : Hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, kekuatan hafalannya di bawah perawi hadis sahih, bersambung sanadnya, tidak mengandung illat dan syaz.
Hasan lidzatihi            : Hasan dengan sendirinya, bukan karena bantuan sanad yang lain, tetapi karena sanadnya sendiri.
Hasan lighairihi           : Hasan bukan dengan sanadnya sendiri, tetapi karena dibantu oleh adanya keterangan atau sanad yang lain sehingga menjadi kuat.
Ilmu Hadis                  : Ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan hadis Rasul saw. hingga dapat memberi penilaian apakah suatu hadis memenuhi kriteria untuk dapat diterima atau tidak.
Illat                             : Penyakit atau cacat
Isnad                           : Jajaran orang-orang yang menyampaikan matan hadis (rantaian perawi) dari rasul, sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, dan seterusnya sampai pada orang yang membukukan hadis tersebut.
Khabar                        : Sinonim dari hadis. Namun sebagian ulama membatasinya hanya pada riwayat yang berasal dari selain Rasul. Khabar lebih condong pada sejarah.
Mahfuz                       : Hadis sahih dan hasan yang diriwayatkan oleh orang yang sangat tsiqah, tapi menyalahi riwayat rawi lain yang juga tsiqah namun derajat ketsiqahannya berada dibawahnya.
Majhul                        : Riwayat yang tidak dikenal atau hadis yang perawinya tidak dikenal
Maqbul                       : Hadis yang dapat diterima sebagai hujjah, yaitu yang sanadnya bersambung, perawinya adil dan dhabith meskipun dabhithnya ringan, terhindar dari syaz dan tidak ada illat.
Maqlub                       : Hadis yang terbalik lafalnya pada matan, atau pada nama seseorang, atau nasabnya dalam sanad.
Maqthu'                      : Sesuatu yang disandarkan pada tabiin atau generasi setelahnya, baik itu perkataan atau perbuatan. Ia tidak dapat dijadikan hujjah meskipun sanadnya sahih tapi sika ada indikasi perkataan itu marfu' kepada Nabi maka hukumnya menjadi marfu' mursal.
Mardud                       : Hadis yang ditolak karena tidak memenuhi syarat-syarat maqbul
Marfu'                         : Hadis yang disandarkan kepada Rasul saw. sendiri baik perkataan, perbuatan ataupun taqrir, baik sanadnya bersambung (muttashil), maupun terputus (munqathi') atau terputus beberapa sanadnya menurut urutan (mu'dhal).
Ma'ruf                         : Hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan perawi yang dhaif.
Masyhur                      : Hadis yang disampaikan oleh 3 orang atau lebih tapi jumlahnya tidak sampai pada tingkatan mutawatir.
Matan                         : Materi berita hadis yang terletak sesudah sanad.
Maudu'                       : Hadis yang dibuat-buat oleh pendusta disandarkan pada Rasul dengan sengaja untuk mengada-ada.
Mudallas                     : Hadis yang diriwayatkan dengan perkiraan bahwa tidak terdapat cacat atau aib di dalamnya. Ada juga yang mengatakan mudallas adalah menyembunyikan cacat rangkaian sanad dan menunjukkan keelokannya.
Muhaddits                  : Orang yang berkecimpung dalam ilmu hadis baik riwayah maupun dirayah.
Muhmal                      : Hadis yang diriwayatkan dari salah seorang yang serupa namanya, kunyahnya, dan laqabnya, atau salah satu dari ketiganya.
Munkar                       : Hadis yang di dalam sanadnya terdapat perawi yang banyak melakukan kesalahan, lalai, atau jelas kefasikannya.
Munqalib                    : Hadis yang sebagian lafal matannya terbalik atau tertukar karena perbuatan si perawi sehingga berubah maknanya.
Munqathi'                   : Hadis yang salah seorang atau lebih perawinya dari awal sanad gugur, termasuk juga apabila di dalam sanad ada disebutkan seseorang yang tidak jelas.
Mursal                         : Hadis yang perawinya adalah sahabat yang tidak disebutkan namanya. Hadis tersebut tidak menyebutkan sahabat yang menerimanya dari Rasul.
Musnad                       : Kitab yang memuat hadis-hadis berdasarkan nama sahabat yang meriwayatkannya dari Rasul tanpa memperhatikan masalah yang dibicarakan hadis itu.
Mutawatir                   : Hadis yang diriwayatkan oleh orang banyak yang tidak mungkin mereka sepakat berdusta. Hal serupa itu terjadi sejak awal sanad hingga akhir sanad.
Muttafaq Alaih           : Hadis yang disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim
Muttashil                    : Hadis yang sanadnya bersambung, baik marfu' maupun mawquf.
Qudsi                          : Hadis yang diriwayatkan oleh Nabi saw. bahwa hal tersebut dari Allah swt. Perawinyanya meriwayatkannya dari Rasul yang disandarkan kepada Allah swt. Lafalnya berasal dari Rasul namun maknanya berasal dari Allah.
Rajih                           : Hadis yang terkuat dari dua hadis yang berlawanan kandungannya.
Rawi                           : Orang yang menerima hadis dari gurunya dan kemudian menyampaikannya kepada orang lain atau menulisnya dalam sebuah kitab.
Rijal al-Hadits            : Orang-orang yang terkait di sekitar hadis, baik sebagai sanad maupun mukharrij. Ilmu Rijal Hadis adalah ilmu yang menyajikan tetntang pengenalan keadaan para perawi hadis dalam kapasitas mereka sebagai periwayat hadis.
Riwayah                     : Suatu pemberitaan yang disandarkan kepada Nabi.
Sahih                           : Hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh periwayat yang adil, dhabith hingga akhir sanadnya, tidak ada syaz dan illat di dalamnya.
Sanad                          : Rantaian orang-orang yang menyampaikan matan hadis dari Rasul saw. , sahabat, tabiin, tabi' al-tabiin dan seterusnya sampai pada orang yang membukukan hadis tersebut.
Sunnah                        : Segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasul berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir, atau akhlak, atau keadaan fisik, atau sejarah kehidupanhya baik sesudah menjadi Rasul atau sebelumnya.
Syaz                            : Hadis yang diriwayatkan oleh seseorang yang riwayatnya maqbul namun menyelisihi riwayat yang lebih rajah karena mempunyai kelebihan, baik kelebihan itu berupa banyaknya jalur sanadnya atau ke-dhabith-an yang lebih kuat.
Tsabat                         : Seorang yang adil lagi dhabith
Tsiqat                          : Seorang yang adil lagi dhabith

Sabtu, 13 April 2013

MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT

Term muhkamat dan mutasyabihat telah menjadi pembicaraan sejak masa klasik, dan masih menarik untuk dibicarakan pada saat ini. Umumnya ulama tafsir dan mutakallimun punya pendapat yang sama tentang muhkamat namun berbeda tentang  term yang kedua, baik tentang arti mutasyabihat sendiri maupun tentang apakah ayat-ayat mutasyabihat bisa dipahami manusia atau tidak karena kesamaran maknanya.
 Sama kita ketahui bahwa Alquran menyebutkan kata muhkamat dan mutasyabihat dalam beberapa ayatnya, antara satu dan lain ayat sekilas nampak bertentangan menyangkut kedua term tersebut.


Pada surat Hud ayat 1 dikatakan bahwa Alquran keseluruhannya adalah muhkamat.
 الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آَيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ
Alif, Laam, Raa'. Al-Quran sebuah Kitab yang tersusun ayat-ayatnya dengan tetap teguh, kemudian dijelaskan pula kandungannya satu persatu. (Susunan dan penjelasan itu) adalah dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana, lagi Maha Mendalam pengetahuanNya.
 

Sementara pada tempat yang lain, surat Al-Zumar ayat 23 mengatakan bahwa Alquran seluruhnya adalah mutasyabihat.
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
Allah telah menurunkan sebaik-baik perkataan iaitu Kitab Suci Al-Quran yang bersamaan isi kandungannya antara satu dengan yang lain (tentang benarnya dan indahnya), yang berulang-ulang (keterangannya, dengan berbagai cara); yang (oleh kerana mendengarnya atau membacanya) kulit badan orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka menjadi seram; kemudian kulit badan mereka menjadi lembut serta tenang tenteram hati mereka menerima ajaran dan rahmat Allah. Kitab Suci itulah hidayah petunjuk Allah; Allah memberi hidayah petunjuk dengan Al-Quran itu kepada sesiapa yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya); dan (ingatlah) sesiapa yang disesatkan Allah (disebabkan pilihannya yang salah), maka tidak ada sesiapa pun yang dapat memberi hidayah petunjuk kepadanya.


Tidak seperti kedua ayat di atas, ayat berikut ini (ali Imran: 7) justru mengatakan bahwa sebagian dari Alquran adalah muhkamat dan sebagiannya lagi adalah mutasyabihat.
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Dia lah yang menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab Suci Al-Quran. Sebahagian besar dari Al-Quran itu ialah ayat-ayat "Muhkamaat" (yang tetap, tegas dan nyata maknanya serta jelas maksudnya); ayat-ayat Muhkamaat itu ialah ibu (atau pokok) isi Al-Quran. Dan yang lain lagi ialah ayat-ayat "Mutasyaabihaat" (yang samar-samar, tidak terang maksudnya). Oleh sebab itu (timbulah faham yang berlainan menurut kandungan hati masing-masing) - adapun orang-orang yang ada dalam hatinya kecenderungan ke arah kesesatan, maka mereka selalu menurut apa yang samar-samar dari Al-Quran untuk mencari fitnah dan mencari-cari Takwilnya (memutarkan maksudnya menurut yang disukainya). Padahal tidak ada yang mengetahui Takwilnya (tafsir maksudnya yang sebenar) melainkan Allah. Dan orang-orang yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya dalam ilmu-ilmu agama, berkata:" Kami beriman kepadanya, semuanya itu datangnya dari sisi Tuhan kami" Dan tiadalah yang mengambil pelajaran dan peringatan melainkan orang-orang yang berfikiran.


Ketiga ayat di atas menjadi dasar pembahasan tentang term muhkamat dan mutasyabihat. Berangkat dari sini para ulama kemudian memberi makna terhadap muhkamat dan mutasyabihat, tentunya makna yang bisa mengakomodir ketiga ayat di atas, dalam arti makna yang sesuai dengan ketiganya sekaligus, karena kita tentunya meyakini bahwa ketiga ayat di atas benar adanya dan tidak mungkin mengandung kesalahan, justru pemahaman terhadap ketiga ayat tersebutlah yang mempunyai potensi benar dan salah.

Pengertian Muhkamat dan Mutasyabihat
Secara etimologis muhkamat berasal dari ahkama, akar katanya adalah hakama yang memiliki arti menghalangi, menahan, memilih yang terbaik dari dua hal. Hakamtu daabbah artinya saya menahan binatang itu. Hukm berarti memutuskan antara dua hal. Hakim berarti orang yang menahan atau mencegah kezaliman, yang memisahkan antara dua pihak yang bersengketa, dan memilah yang haq dan yang batil. Sementara Ahkama memiliki arti ketelitian, keakuratan, ketelitian, kekukuhan, pencegahan dan keseksamaan. Ihkam al-kalam berarti mengokohkan perkataan dengan memisahkan berita yang benar dari yang salah, dan urusan yang lurus dari yang sesat. Muhkam artinya suatu ungkapan yang maksud dan makna lahirnya tidak mungkin diganti atau diubah (ma ahkam al-murad bih ‘an al-tabdil wa al-taghyir) Jadi, yang dimaksud kalam muhkam adalah perkataan yang kokoh, benar, jelas dan tegas. Mutasyabihat berasal dari kata tasyabaha, akar katanya adalah syabaha, memiliki arti mirip, serupa. Setelah diberi tambahan ta (tasyabaha) maka dia mengandung arti kemiripan atau keserupaan antara dua hal, yaitu apabila satu hal serupa dengan yang lainnya sehingga menjadi samar seperti termaktub dalam ayat 70 surat al-Baqarah.
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ
Mereka berkata lagi: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, supaya diterangkanNya kepada kami lembu betina yang mana itu? Kerana sesungguhnya lembu yang dikehendaki itu samar bagi kami (susah kami memilihnya), dan kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk mencari dan menyembelih lembu itu)".


 Jadi, mutasyabih adalah ungkapan yang maksud dan maknanya samar (ma khafiya bi nafs al-lafzh). Tasyabuh juga bisa berarti serupa atau mirip saja tanpa bermaksud /mengandung arti samar. Tasyabuh al-kalam adalah kesamaan serta kesesuaian perkataan, karena sebagiannya membenarkan sebagian yang lain serta sesuai pula maknanya.


Secara terminologi muhkamat dan mutasyabihat berarti:
1.    Muhkam adalah sesuatu yang telah jelas maknanya. Sedangkan mutasyabihat tidak jelas maknanya
2.    Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara lansung tanpa membutuhkan keterangan lain. Sedangkan mutasyabih butuh penjelasan
3.    Muhkam adalah ayat yang dalalhnya kuat baik maksud maupun lafaznya. Sedangkan mutasyabih adalah ayat yang lemah dalalahnya, bersifat mujmal, sehingga memerlukan ta’wil
4.    Muhkam adalah ayat yang seksama susunan dan urutannya yang membawa kepada kebangkitan makna yang tepat tanpa pertentangan. Sedangkan mutasyabih adalah ayat yang makna seharusnya tidak terjangkau dari segi bahasa kecuali bila ada bersamanya indikasi atau konteksnya
5.    Muhkam adalah ayat yang maknanya rasional, artinya dengan akal manusia saja pengertian ayat itu dapat ditangkap. Tetapi ayat-ayat mutasyabih mengandung pengertian yang tidak dapat dirasionalkan. Misalnya bilangan rakaat di dalam sholat lima waktu.
6.    Muhkam adalah ayat yang nasikh dan padanya mengandung pesan pernyataan halal, haram, hudud, faraidh dan semua yang wajib di amalkan. Adapun mutasyabih yaitu ayat yang padanya terdapat mansukh, dan qasam serta yang wajib di imani tetapi tidak wajib diamalkan lantaran tidak tertangkapnya makna yang dimaksud.
7.    Muhkam ialah ayat yang jelas maksudnya lagi nyata yang tidak mengandung kemungkinan nasakh. Mutasyabih ialah ayat yang tersembunyi  (maknanya), tidak diketahui maknanya baik secara aqli maupun naqli, dan inilah ayat-ayat yang hanya Allah SWT mengetahuinya, seperti datangnya hari kiamat, huruf-huruf yang terputus-putus di awal-awal surat. Pendapat ini di bangsakan Al-Alusi kepada pemimpin-pemimpin mazhab Hanafi.
8.    Muhkamat adalah ayat-ayat hukum Tuhan yang berkaitan langsung dengan manusia seperti hudud, akhlaq, faraid, halal dan haram. Sedangkan mutasyabihat adalah ayat-ayat hukum Tuhan yang berkaitan dengan alam dan Tuhan sendiri seperti ilmu tentang ketuhanan dan hukum alam. 


Surat Hud ayat 1 yang menyatakan bahwa Alquran seluruhnya adalah muhkamat bisa dipahami bahwa seluruh ayat Alquran adalah kokoh, tidak mungkin diganti atau dirubah, akurat dalam arti ayat-ayat tersebut tidak meleset tujuannya, kekokohan ayat-ayat Alquran terlihat dari  kekokohan perkataannya yang memisahkan yang benar dan yang salah. Susunan lafal Alquran dan keindahan Nazmnya sangat sempurna tidak ada sedikitpun terdapat kelemahan padanya, baik dalam segi lafalnya, maupun dalam segi maknanya. Sementara surat al-Zumar ayat 23 yang menyatakan bahwa Alquran seluruhnya adalah mutasyabihat dapat dipahami bahwa seluruh ayat Alquran sebagai kalam Tuhan mempunyai kemiripan dan kesamaan sehingga ketika dibacakan orang akan tau bahwa itu adalah kata-kata Tuhan. Ayat-ayat itu juga menyerupai satu sama lain dan tidak saling bertentangan, sebagiannya menyerupai sebagian yang lain dalam kebenarannya dan hikmat. Dengan begitu kata muhkamat dan mutasyabihat pada kedua ayat tersebut berbeda konteksnya dengan Ali Imran:7 sehingga makna yang dibawanya pun tentu akhirnya berbeda.

Penerimaan Ulama terhadap Mutasyabihat.
Meskipun Alquran menegaskan bahwa didalamnya termuat ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat, namun tak ada kepastian ayat-ayat mana saja yang termasuk kategori muhkamat dan mana pula yang mutasyabihat sehingga tidak diketahui pula dengan pasti berapa jumlah ayat yang muhkamat dan berapa yang mutasyabihat. Sebuah ayat bisa saja dianggap muhkamat bagi sebagian kelompok dan mutasyabihat bagi kelompok lain, meski beberapa ayat juga bisa saja disepakati sebagai mutasyabihat.


Ulama juga berbeda pendapat tentang kemampuan manusia untuk memahami ayat-ayat mutasyabihat. Sebagian mengatakan bahwa hanya Tuhan saja yang mengerti tentang makna ayat-ayat itu, manusia hanya mengimaninya saja. Sikap ini dianut oleh mazhab salaf. Kata-kata dalam ayat mutasyabihat dikembalikan maknanya pada makna yang pernah disebutkan oleh ayat-ayat muhkamat. Misalnya kata ‘tangan’ dan ‘wajah’ pada yad Allah fawqo aidihim dan kullu syaiin halikun illa wajhah diyakini sebagai tangan dan wajah namun dalam arti yang dimaksud oleh ayat muhkamat laysa kamistlihi syai’un. Sehingga, meskipun Allah mengatakan ‘tangan’ dan ‘wajah’ tapi harus dipahami bahwa Allah tidak menyerupai apa pun sehingga ‘tangan’ dan ‘wajah’ yang bagaimanapun yang pernah terpikir oleh manusia pasti bukanlah bentuk ‘tangan’ atau ‘wajah’ Allah. Oleh karena kaum salaf tidak berani memberikan makna terhadap kata-kata yang mengandung tajsim, maka mereka membiarkan saja ayat itu tidak dapat dimengerti, khawatir akan menjadi syirik karena memberikan wujud/bentuk pada Tuhan.

Sebagian ulama menolak untuk membiarkan ayat Alquran tidak bisa dipahami karena Alquran dibuat dengan bahasa Arab yang jelas (QS. Al-Syu’ara’: 195), mustahil orang Arab tidak bisa memahaminya. Aneh rasanya bila Tuhan kemudian memberikan Alquran kepada manusia sebagai petunjuk namun ada ayat-ayatnya yang tidak bisa dipahami. Sikap ini dianut oleh ulama mazhab khalafi. Mereka mencoba memahami ayat-ayat mutasyabihat dengan memberikan takwil terhadap ayat tersebut. Takwil adalah usaha memahami makna Alquran yang tersembunyi dengan menggunakan kemampuan bahasa dan ijtihad.


Perbedaan mazhab salaf dan khalaf berawal dari pemahaman tentang surat Ali Imran ayat 7. Mazhab salaf meyakini bahwa huruf waw sebelum kata al-rasikhun adalah waw isti’naf sehingga kalimat “wa al-rasikhun fi al-ilmi….” Adalah kalimat baru yang tidak terkait dengan kalimat sebelumnya. Dengan begitu, maknanya menjadi sebagaimana arti ayat Ali Imran:7 yang tertulis di awal malakah ….. Padahal tidak ada yang mengetahui Takwilnya (tafsir maksudnya yang sebenar) melainkan Allah. Dan orang-orang yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya dalam ilmu-ilmu agama, berkata:" Kami beriman kepadanya, semuanya itu datangnya dari sisi Tuhan kami"…… . Ini menunjukkan bahwa yang tau takwil ayat mutasyabihat cuma Allah, sedangkan orang-orang yang rasikh dalam ilmu dan pengetahuan hanya mengimaninya saja. 


Sementara itu mazhab khalaf mengklaim bahwa waw di situ adalah waw athaf . Dengan begitu makna ayat tersebut menjadi Padahal tidak ada yang mengetahui Takwilnya (tafsir maksudnya yang sebenar) melainkan Allah dan orang-orang yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya dalam ilmu-ilmu agama, berkata:" Kami beriman kepadanya, semuanya itu datangnya dari sisi Tuhan kami"… Ini menunjukkan bahwa takwil ayat-ayat mutasyabihat hanya diketahui oleh Allah dan orang-orang yang rasikh dalam ilmu dan pengetahuan. Ayat ini kemudian menjadi dasar penolakan ulama salaf terhadap takwil Alquran, karena takwil hanya dilakukan oleh orang-orang yang hatinya cenderung pada kesesatan dan menginginkan tersebarnya fitnah. 


Setelah membaca makna term muhkamat dan mutasyabihat di atas serta penerimaan ulama terhadap ayat-ayat itu, ada penjelasan baru tentang kedua term tersebut oleh Muhammad Shahrur, yang layak untuk kita baca dan renungkan. Entah mengapa, penjelasan Shahrur menurut saya sensible, terlepas dari pro dan kontra terhadap tafsir hermeneutiknya. Penjelasan Sharur tentang Muhkamat dan Mutasyabihat telas saya postingkan sebelumnya dalam “Hermeneutika Muhammad Shahrur” .

REFERENSI
Abdullah, Zulkarnaini. 2007. Yahudi Dalam Al-Quran. Yogyakarta: eLSAQ Press.
Abu Zaid, Nashr Hamid. 2003. Manalar Firman Tuhan. Bandung: Mizan.
Shahur, Muhammad. 2008. Hermeneutika Al-Quran. Yogyakarta. eSAQ Press.
http://afrinaldiyunas.blogspot.com/2011/12/ayat-ayat-muhkamat-dan-mutasyabihat.html
http://islamtradisionalis.wordpress.com/2012/01/27/mengenal-ayat-ayat-muhkamat-dan-mutasyabihat/
http://aufamaudy0408.blogspot.com/2011/12/makalah-ayat-ayat-muhkamat-dan.html
http://adnanmahdi.blogspot.com/2009/11/muhkamat-dan-mutasyabihat.html

HERMENEUTIKA MUHAMMAD SHAHRUR

A.    Pendahuluan
        Kitab suci berisikan Kalam Tuhan yang agung yang tak terbatas dan mempunyai pengetahuan absolut, diturunkan kepada manusia yang serba terbatas dan mempunyai pengetahuan yang tak dapat dibandingkan dengan pengetahuan Tuhan. Oleh karena itu, tidak mungkin seseorang ataupun sekelompok orang dari sebuah generasi manapun, mampu memahami teks Tuhan tersebut secara mutlak sebagaimana yang diinginkan oleh Tuhan. Pemikiran ini lah yang menjadi dasar bagi Shahrur dan tokoh-tokoh hermeneutika untuk meninjau ulang pemahaman terhadap teks  karangan Tuhan ini. Shahrur berkeyakinan bahwa teks Alquran tidak harus dipahami secara rigid sebagaimana para mufassir klasik memahaminya, karena Alquran bersifat universal dan shalih li kulli zaman wa al-makan, sehingga makna yang terkandung di dalamnya tentu dinamis sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman pembacanya pada zaman mereka masing-masing.
        Meskipun Shahrur mempunyai semangat yang sama dengan tokoh hermeneutika filosofis dan hermeneutika kritis, untuk meninjau ulang pemahaman terhadap teks Tuhan, namun ada sedikit perbedaan. Bila hermeneutika filosofis dan hermeneutika kritis ala barat terkesan putus asa memahami apa yang dinginkan oleh pengarang teks (Tuhan) karena apa yang sesungguhnya diinginkan oleh pengarang tidak akan bisa diketahui kecuali oleh pengarang sendiri, sehingga mereka kemudian lebih melihat pada pemahaman pembaca terhadap teks, dengan dalih, pengarang tidak mampu menyetir pemahaman pembaca terhadap teks yang telah dibuatnya. Shahrur juga lebih melihat pada pemahaman pembaca, tapi dalam arti, teks tersebut memang telah sengaja didesain bersifat universal sehingga memungkinkan untuk dipahami sesuai dengan ruang dan waktu si pembaca. Bukan karena tidak ingin memahami keinginan pengarang, tapi karena pemahaman pembaca yang sesuai zamannya tersebutlah sebetulnya yang dinginkan pengarang. Benar bahwa tidak mungkin memahami teks sesuai dengan pemahaman penciptanya, tapi bukan berarti meninggalkan apa yang dinginkan penciptanya, karena kalau begitu, maka berarti apa pun yang dipahami pembaca (interpreter) menjadi benar. Pemahaman yang serba benar ini tentunya tidak masuk akal.
        Keinginan Shahrur untuk meninjau kembali pemahaman Alquran dan menyesuaikan pemahamannya tersebut dengan ruang dan waktu yang sekarang, terkesan ingin meninggalkan pemahaman ulama salaf dan tafsir-tafsir klasik, karena karya mereka, sedikit banyak, tentunya tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang. Oleh karena itu, tulisan Shahrur menuai banyak kritik dari ulama berbagai negara. Tak kurang dari Said Ramadhan Buti, telah memberikan kritik terhadap tulisannya Al-Kitab wa Al-Quran: Qira'ah Mu'ashirah. Semakin banyak yang mengkritiknya, maka semakin menaikkan popularitasnya. Bukunya laris terjual dan bahkan banyak dibajak di beberapa negara Islam yang melarang memperjualbelikan bukunya. Phenomena Shahrur pun menjadi menarik untuk diperbincangkan.
        Dalam makalah singkat ini penulis juga ikut tertarik untuk membahas hermeneutika Sharur (bila memang metodenya dalam memahami Alquran bisa disebut dengan hermeneutika), atau paling tidak penulis mencoba memahami dasar pemikiran Shahrur dalam usaha beliau memahami Alquran. Dalam makalah ini penulis ingin melihat cara-cara memahami teks terlebih dahulu agar kemudian bisa memahami posisi Shahrur dalam upayanya memahami teks Alquran. Kemudian perlu rasanya untuk mengetahui perjalanan hidup beliau, latar belakang pendidikan dan karya-karyanya agar lebih mudah memahami pemikirannya. Baru setelah itu penulis mencoba memahami prinsip dan dasar hermeneutika beliau.
        Terkait dengan cara penulisan beberapa kata dalam makalah ini, penulis mungkin terkesan tidak konsisten dengan menuliskan kata Alquran pada beberapa tempat dan Quran, al-Quran pada tempat lain, padahal itu bukanlah bentuk ketidakkonsistenan penulis, melainkan isi makalah ini nampaknya menghendaki seperti itu. Penulis mengharap pembaca makalah akan mengetahuinya setelah membacanya dengan tuntas. Kata "Quran" dan "Alquran" merujuk pada KBBI yang maksudnya adalah kitab suci umat Islam, sedangkan al-Quran bisa berarti lain sesuai dengan konteks yang sedang dibicarakan.

B.    Metode Memahami Teks Alquran

        "Banyak jalan menuju Roma", ungkapan ini nampaknya cocok untuk menggambarkan banyaknya cara untuk memahami Alquran. Ulama terdahulu mempunyai pendekatan yang berbeda-beda dalam memahami Alquran, namun secara umum dapat kita bagi menjadi dua kategori, yang satu skriptural yang lainnya rasional. Kelompok pertama berusaha memahami teks Alquran melalui script atau naskah keagamaan, yaitu memahami teks Alquran dengan melihat teks Alquran yang lain, atau dengan Hadis dan perkataan Sahabat. Pendekatan ini juga disebut dengan pendekatan Naqliy dan karya yang menggunakan pendekatan ini disebut dengan Al-Tafsir bi Al-Ma'tsur. Sedangkan kelompok kedua memahami Alquran melalui rasio, meski kadangkala terpaksa menggunakan riwayat, namun itu hanyalah apabila diperlukan untuk memenuhi tuntutan rasionalitas. Pendekatan ini disebut juga dengan pendekatan 'Aqliy dan penafsiran yang menggunakan pendekatan ini disebut dengan Al-Tafsir bi Al-Ra'yi.  Ada juga tafsir yang menggunakan kedua pendekatan tersebut sekaligus seperti tafsir Al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.
        Disamping dua pendekatan yang disebut di atas, ada juga pendekatan bahasa dan sastra dan yang terbaru adalah pendekatan hermeneutika. Pendekatan bahasa adalah cara memahami Alquran dari aspek kebahasaan. Bahasa yang digunakan dalam Alquran dibedah dengan pisau linguistik; sintaksis, morfologi, semantik, semiotik, sehingga dapat ditemukan makna yang sebenarnya. Pendekatan bahasa di satu sisi bisa dikatakan naqly karena pendekatan ini menuntut kepatuhan terhadap aturan-aturan kebahasaan dan melihat contoh-contoh teks sejenis yang sudah biasa digunakan , namun di sisi lain ia juga bisa dikatakan 'aqly karena memahami bahasa harus dengan mencerna dan menganalisanya setelah melihat strukturnya. Sedangkan Hermeneutika adalah metode memahami teks yang berasal dari barat dengan latar belakang tradisi Yudeo-Kristiani dan filsafat Yunani.  Konsep ini muncul atas reaksi modernitas viz a viz pemahaman ajaran agama yang mulai disadari tidak masuk akal. Umat Kristen modern yang mengandalkan rasio mulai mempertanyakan otoritas gereja dan kepercayaan agama mereka yang terasa bertentangan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka kuasai belakangan. Dengan hermeneutika mereka mencoba memahami kitab suci mereka dengan makna yang lebih sesuai dengan keadaan, kehidupan dan kerangka berfikir mereka yang sekarang. Hermeneutika, sebagaimana juga pendekatan bahasa, menggunakan pendekatan naqly dan 'aqly sekaligus. Ini tak lain karena bahasa dan pemahaman merupakan inti dari hermeneutika. Kita berfikir melalui bahasa; kita bicara dan menulis dengan bahasa; kita mengerti dan membuat interpretasi dengan bahasa. H. G. Gadamer dalam Sumaryono mengatakan, "Bahasa merupakan modus operandi dari cara kita berada di dunia dan merupakan wujud yang seakan-akan merangkul seluruh konstitusi tentang dunia ini".  Meskipun begitu, tentu berbeda pendekatan bahasa yang disebutkan sebelumnya dengan hermeneutika. Hermeneutika menggabungkan semua upaya untuk mendapatkan makna utuh, menyeluruh, relevan dan dapat diimplementasikan pada zaman sekarang. Sedangkan pendekatan bahasa (linguistik) an sich, mengungkapkan secara apa adanya sebuah ungkapan sebagaimana yang dikehendaki oleh aturan-aturan kebahasaan tanpa ada usaha untuk mengambil makna universal yang bisa dibawa ke zaman ini. Sementara hermeneutika adalah cara baru bergaul dengan bahasa. Ia berusaha menjangkau makna yang lebih jauh melampaui batas-batas aturan kebahasaan, atau dalam bahasa Sibawaihi, menyusup lebih jauh di balik sebuah teks.
        Hermeneutika sebagai metode baru memahami Alquran sudah cukup dikenal dalam dunia Islam dewasa ini meski belum bisa diterima sepenuhnya oleh sebagian besar umat Islam. Terminologi yang biasa digunakan dalam dunia Islam adalah tafsir dan metode yang berlaku selama ini adalah ulum al-tafsir. Memang istilah hermeneutik tidak ditemukan dalam khazanah keilmuan Islam klasik, namun prakteknya sebenarnya sudah dilakukan oleh umat Islam sejak lama – meski belum dalam bentuk hermeneutika modern – dengan sebutan ta'wil.
        Ta'wil pada level tertentu bisa dianggap sebagai padanan dari tafsir, yaitu penjelasan makna teks Alquran. Tapi para pakar ulum al-Quran membedakan keduanya.Tafsir merupakan penjelasan dari ungkapan baik murni atau pun simbolik, sedang ta'wil berusaha menyibak tirai hakikat terdalam dan tersembunyi yang dimaksud oleh ungkapan tersebut. Ta'wil biasanya dipakai terbatas pada lafaz-lafaz yang ambigu (mutsyabihat), yang memerlukan pengetahuan bahasa yang luas serta kemampuan berijtihad untuk menjelaskan maknanya.
        Menurut Farid Esack dalam Faiz, ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa umat Islam telah mempraktekkan hermeneutik sejak lama. Bukti-bukti itu adalah:
1.    Problematika hermeneutik itu senantiasa dialami dan dikaji, meski tidak ditampilkan secara definitive. Hal ini terbukti dari kajian-kajian mengenai asbabun-nuzul dan nasakh-mansukh.
2.    Perbedaan antara komentar-komentar yang aktual terhadap al-Qur'an (tafsir) dengan aturan, teori atau metode penafsiran telah ada sejak mulai munculnya literatur-literatur tafsir yang disusun dalam bentuk ilmu tafsir.
3.    Tafsir tradisional itu selalu dimasukkan dalam kategori-kategori, misalnya tafsir syi'ah, tafsir mu'tazilah, tafsir hukum, tafsir filsafat, dan lain sebagainya. Hal itu menunjukkan adanya kesadaran tentang kelompok-kelompok tertentu, ideologi-ideologi tertentu, periode-periode tertentu, maupun horizon-horison sosial tertentu dari tafsir.
        Ketiga hal yang disebutkan Esack di atas ini menunjukkan bahwa sebenarnya meskipun tidak secara defenitif namun kesadaran akan multitafsir sudah ada sejak dulu dan ini sejalan dengan corak hermenutika yang menganut asas pluralitas pemahaman. Operasional hermeneutika modern dalam penafsiran Alquran baru muncul belakangan dirintis oleh pembaharu muslim India yang disebut oleh Panicker dengan Pan-Indo-Muslim Hermeneutics  seperti Sir Syed Ahmad Khan , Maulana Azad , Amir Ali dan Ghulam Ahmad Parves. Namun karya tokoh-tokoh di atas belumlah mempunyai rumusan metodologis yang sistematis dan jelas. Baru pada tahun 1960 ke atas muncul tokoh-tokoh hermeneutika Islam seperti Hassan Hanafi, Fazlurrahman, Arkoun, Abu Zayd, Al-Jabiri, dan Shahrur.  
  
C.    Riwayat Hidup Muhammad Shahrur dan Karyanya

        Muhammad Shahrur dilahirkan di Salihiyya, Damascus, pada tahun 1938. Terlahir di keluarga Sunni yang lebih menjunjung tinggi etika moral Islam ketimbang ritual keagamaan, meskipun kedua orang tuanya adalah muslim yang taat, yang melakukan shalat, puasa dan haji. Orang tuanya mengajarkan bahwa agama hanya dapat diukur dengan praktek dan penerapan moralnya, bukan efikasi spiritual. "Kalau ingin menghangatkan badan, jangan dengan membaca Qur'an, tapi nyalakan api di kompor", kata-kata ini yang pernah diucapkan bapaknya pada Shahrur, sebagaimana yang ia sampaikan dalam sebuah wawancara.
        Tidak seperti anak-anak lainnya yang disekolahkan di kuttab dan madrasah yang mengajarkan dasar-dasar ilmu keislaman, Shahrur di sekolahkan pada sekolah negeri yang sekuler di Midan, dengan demikian atmosfir liberal tidak hanya ia dapat dari ayahnya di rumah, tapi juga pada lingkungan sekulernya di sekolah. Di sekolah ia memilih jurusan ilmu alam dan ketika kuliah dia memilih jurusan Teknik Sipil. Pada tahun 1959 dia dikirim ke Saratow, dekat Moscow, di mana dia belajar teknik sipil. Dia kembali ke Syria tahun 1964 setelah menggondol diploma dari Moscow Institute of Engineering, dan menikah dengan gadis Rusia. Empat tahun kemudian dia kuliah lagi, kali ini di Dublin, untuk mendapatkan ijazah Master dan doktornya di bidang mekanik tanah dan teknik fondasi. Ia kembali ke Syria dan mengajar di University of Syria sebagai profesor pada Fakultas Teknik sejak 1972 sampai 1998.
        Shahrur dilahirkan dalam latar belakang keadaan politik Syria yang tidak stabil. Sedikit atau pun banyak, langsung atau tak langsung, kekacauan ideologi, politik dan administrasi negara pada waktu itu  tentu berpengaruh terhadap Shahrur muda. Kedekatan Syria dengan Soviet waktu itu, membawanya ke Saratow. Mau tidak mau dia harus berhadapan lagi dengan "kekacauan ideologi politik" di mana dia menyaksikan sendiri kehancuran Stalinisme pada periode Nikita Khrushchev. Keyakinan agamanya tertantang untuk berkonfrontasi dengan filsafat Marxis dan ateisme Soviet yang sudah melembaga. Selama konfrontasinya dengan filsafat Marxis, dia mendapatkan pelajaran yang berharga, bahwa ideologi yang ideal dan praktikal membutuhkan sebuah konsep ilmu pengetahuan yang mendasar, yaitu teori tentang persepsi manusia terhadap sesuatu yang exist dalam realitas yang objektif. 
        Disamping karirnya sebagai professor dan konsultan , Shahrur tetap tertarik untuk mengembangkan pandangannya dalam logika, epistemologi, dan teologi sebagai respon terhadap krisis pan-Arabisme dan kekalahan Arab dalam perang enam hari melawan Israel pada tahun 1967. Namun bukan berarti Shahrur sudah terdengar atau terlihat sebagai filosof Islam, karena saat itu tak sekalipun beliau pernah menerbitkan tulisan yang bertemakan filsafat dan agama sebelum diterbitkan tulisannya yang kontroversial, al-Kitab wa al-Qur'an. Buku tersebut adalah karya pertamanya yang monumental sekaligus sangat kontroversial pada tahun 1990. Sebelum itu, karya beliau hanya seputar pengetahuan yang berkaitan dengan latar belakang pendidikan tekniknya. Beliau dikenal sebagai pengarang beberapa buku referensi standar Syria tentang mekanika tanah dan teknik fondasi. Tahun 1994 terbit lagi buku keduanya, al-Dawla wa al-Mujtama'. Kemudian secara berturut sejak tahun 1996 hingga 2008 beliau telah menerbitkan lebih kurang empat buku; al-Islam wa al-Iman – manzumat al-Qiyam (1996), Mashru' Mitsaq al-'Amal al-Islami (1999), Nahw Ushul Jadida li al-Fiqh al-Islami – Fiqh al-Mar'ah (2000), Tajfif manabi' al-Irhab (2008). Bukunya yang terakhir adalah respon terhadap insiden WTC 11 September di mana beliau menolak interpretasi militan terhadap konsep utama Alquran yang diusung oleh muslim radikal.
        Selain buku, Shahrur menulis beberapa artikel yang tersebar dalam jurnal, surat kabar dan situs internet. Di antara artikel-artikel yang pernah ditulisnya adalah:
-    “The Divine Text and Pluralism in Muslim Societies.” Muslim Politics Report (August 14, 1997)

-    “Modernists”, Islam 21 (UK), (January 1999)

-    "Qawl fi’l-Hurriyya" (“The Talk About Freedom.”) Taqrir al-Tanmiyya al-Insaniyya al-'Arabiyya, Markaz Ibn Khaldun (Egypt), (March 2003)

-    "Al-Harakat al-libraliyya rafadat al-fiqh wa-tashri'atiha wa-lakinnaha lam tarfud al-islam ka-tawhid wa-risala samawiyya" (“The Liberal Movements Have Rejected Islamic Jurisprudence and Its Legislations, and Yet They Did Not Reject Islam As Monotheistic Belief and Divine Message.”) Akhbar al-'Arab al-Khalijiyya (UAE),no. 20 (December 16, 2000)

-    "Al-Harakat al-islamiyya lan tafuz bi’l-shar'iyya illa idha tarahat nazhariyya islamiyya mu'ashira fi’l-dawla wa’l-mujtama'" (“The Islamic Movements Will Only Gain Legality If They Propose A Contemporary Theory of State and Society.”) Akhbar al-'Arab al-Khalijiyya (UAE), no. 21 (December 17, 2000)

-    Al-Irhab wa-Harb al-mustalahat (“Terrorism and the War of Words.”) Al-Ittihad (UAE), (April 2004)—(lihat juga: www.shahrour.org).

-    "Al-Gharb…wa’l-islam" (“The West…and Islam.”) Al-Ittihad (UAE), (April 2004) — (lihat juga: www.shahrour.org).

-    "Bi-nass al-Qur'an al-Karim: kull atba' al-diyanat al-samawiyya muslimun" (“According to the Text of the Noble Qur'an: All the Followers of the Heavenly Religions Are Muslims.”) Rawz al-Yusuf (Egypt), no. 3988 (November 19, 2004) — (lihat juga: www.shahrour.org)
       
D.    Prinsip dan Dasar Hermeneutika Shahrur
        Prinsip dan dasar berfikir Shahrur dalam membaca dan memahami Alquran dapat kita ketahui dari beberapa tulisannya dengan sangat jelas, terutama dalam buku pertamanya yang kontroversial itu. Ada beberapa term, yang perlu kita pahami, yang dipakai Shahrur sebagai dasar dalam memahami Alquran yang nantinya akan kita paparkan satu per satu.

Al-Kitab
        Al-Kitab adalah wahyu Tuhan, bukan karya Muhammad. Bila ia adalah karya manusia tentu dia hanyalah merupakan tradisi produk zamannya yang tidak cocok lagi untuk diterapkan di zaman sesudahnya, sementara Alquran (Al-Kitab) relevan untuk semua zaman. Al-Kitab mempunyai karakter sebagai berikut: 1) Al-Kitab sebagai wahyu dari Tuhan yang absolut, sempurna pengetahuannya dan tidak bersifat relatif, berisikan kandungan unsur-unsur yang absolut. 2) Al-Kitab diturunkan untuk manusia, dengan begitu maka tentunya dia mempunyai sisi pemahaman manusia yang memuat unsur-unsur yang relatif. 3) Al-Kitab dimanifestasikan dalam bahasa manusia.
        Dari karakter-karakter Al-Kitab tersebut di atas kita dapat menyimpulkan bahwa Al-Kitab memiliki muatan yang absolut namun pemahamannya bersifat relatif.   Di samping itu, kita dapat pahami bahwa Al-Kitab mempunyai kemutlakan bentuk linguistik yang berupa teks namun di saat yang bersamaan memiliki relatifitas pemahaman. Inilah yang membuktikan bahwa ia berasal dari Tuhan, karena manusia tidak sanggup membuat yang semacam itu.
        Jenis ayat-ayat yang ada dalam kitab bisa dipilah menjadi tiga: (1) Muhkamat. Al-Kitab sendiri menyebutnya dengan istilah umm al-Kitab, isinya adalah masalah ibadah, akhlak, dan hudud. Pemahaman tentang kaidah-kaidah yang terkandung di dalamnya dapat dikaji ulang dengan ijtihad disesuaikan dengan perubahan manusia. (2) Mutasyabihat. Al-Kitab menyebutnya dengan sab'ul matsani dan Qur'an, isinya mengenai akidah. Pemahaman tentang ayat-ayat yang tergolong dalam kategori ini dapat dikaji dengan cara ta'wil. (3) Non-muhkamat dan non-mutasyabihat. Al-Kitab menyebutnya dengan Tafshil al-Kitab, isinya adalah ayat-ayat yang tidak masuk dalam kategori muhkamat ataupun mutasyabihat. 

Al-Nubuwah dan Al-Risalah
        Al-Nubuwah adalah akumulasi pengetahuan yang diwahyukan kepada Muhammad sehingga membuatnya menjadi manusia yang menerima wahyu nubuwah yang dipanggil dengan sebutan Nabi. Al-Nubuwah meliputi seluruh informasi dan pengetahuan ilmiah yang termaktub dalam al-Kitab. Al-Risalah adalah ketentuan penetapan hukum yang diwahyukan kepada Muhammad yang membuatnya kemudian dpanggil sebagai rasul. Jadi, kenabian identik dengan ilmu pengetahuan dan kerasulan identik dengan hukum. Dengan begitu, ayat-ayat hukum, sebagaimana telah dibahas sebelumnya termasuk dalam kategori muhkamat atau disebut juga dengan istilah umm al-Kitab, adalah  ayat-ayat kerasulan (risalah). Di sisi lain, ayat-ayat kenabian (nubuwah) adalah ayat-ayat yang berhubungan dengan eksistensi alam semesta, manusia, sejarah, ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya akidah yang kesemuanya termasuk dalam kategori mutasyabihat dengan sebutan lainnya Quran dan sab'ul matsani, ditambah dengan penjelasan kandungan al-Kitab yang disebut dengan tafshil al-Kitab.
        Menurut Shahrur kemukjizatan al-Kitab justru berada pada ayat-ayat nubuwah yaitu ayat-ayat mutsyabihat (al-Quran dan al-sab'ul matsani) dan tafshil al-Kitab karena disitulah terdapat kemutlakan bentuk linguistik teks sekaligus dinamisasi kandungan maknanya. Shahrur menolak adanya kata yang sinonim dalam menunjukkan al-Kitab. Al-Kitab, al-Quran, al-Furqan dan al-Dzikir adalah terma yang berbeda-beda. Menurut teori ini tentunya ayat waris tidak termasuk dalam Quran (dalam arti dia bukanlah ayat nubuwah), melainkan masuk dalam umm al-Kitab (ayat risalah). Namun harus dipahami bahwa Umm al-Kitab, Quran, Sab'ul Matsani dan Tafshil al-Kitab seluruhnya berasal dari Allah sebagaimana tertulis dalam Ali Imran ayat 7, kullun min 'indi rabbina. Lebih jauh teori ini menyatakan bahwa al-Quran sebagai pembeda antar yang hak dan yang batil dengan menetapkan hukum-hukum alam sehingga dikatakan ia sebagai petunjuk bagi manusia (hudan li al-nas)  sedangkan umm al-Kitab berisi tentang penetapan hukum yang dikaji ulang dan diperbaharui sehingga ia disebut sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (hudan li al-muttaqin) .

Al-Sab'ul Matsani
        Selama ini sab'ul matsani dipahami sebagai 7 ayat yang diulang-ulang dan dipahami ketujuh ayat itu adalah 7 ayat pada surat al-Fatiha, karena ketujuh ayat ini lah yang paling sering diulang-ulang pengucapannya, paling sedikit 17 kali dalam sehari diucapkan dalam shalat lima waktu. Shahrur dengan cerdasnya membantah itu dan menemukan makna yang sebenarnya. Setelah menemukan semantik dari kata "matsani", Shahrur menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan matsani adalah ujung dari tiap-tiap surat dalam al-kitab, dalam hal ini yang dimaksud adalah ayat-ayat pembuka surat, maka sab'ul matsani adalah 7 ayat pembuka surat. Ketujuh ayat yang dimaksud adalah 1. Alif lam mim, 2. Alif lam mim shad, 3. Kaf ha ya 'ain shad, 4. Yasin, 5. Thaha, 6. Tha sin mim, 7. Ha mim.
        Ada huruf-huruf lain yang juga berada pada pembukaan surat namun tidak dimasukkan dalam 7 ayat yang terhimpun sebagai sab'ul matsani, seperti: alif lam ra, alif lam mim ra, tha sin, nun, qaf, shad. Menurut Shahrur, alasannya adalah karena dia bukan merupakan sebuah ayat yang utuh, melainkan bagian dari sebuah ayat, sedangkan yang terhimpun dalam sab'ul matsani adalah satu ayat utuh. Lalu apa signifikansinya 7 ayat itu?. 7 ayat itu bila dikeluarkan fonemnya, seluruhnya ada 11 fonem. Kesebelas fonem ini sebetulnya telah mewakili seluruh fonem yang merupakan huruf-huruf dalam pembuka surat yang tidak terhimpun dalam sab'ul matsani kecuali 3 fonem: qaf, ra dan nun. 3 fonem ini bila digabung dengan 11 fonem yang tergabung dalam 7 ayat pembuka surat jumlahnya jadi 14 fonem. 14 adalah hasil perkalian 2 dengan 7. Al-sab'ul matsani secara letterlijk  juga bisa berarti "7 yang didobelkan". 7 yang didobelkan jumlahnya 14, sama seperti jumlah fonem dari seluruh pembuka surat. Mungkin Shahrur ingin mengatakan bahwa ini bukan kebetulan, ini memang disengaja, menunjukkan bahwa isi al-Kitab sudah diperhitungkan secara detail.
        Terlepas dari hitungan matematis Shahrur yang terkesan terlalu dibuat-buat, apa yang ia ulaskan kemudian  menyangkut 11 fonem yang terhimpun dalam sab'ul matsani, bahwa 11 fonem yang tersebut itu adalah bentuk pelbagai fonem yang dipadatkan dan merupakan asal-usul bahasa manusia dan batas minimal pada bahasa manusia, cukup masuk akal.

Al-Inzal dan al-Tanzil
        Menyangkut turunnya Alquran, redaksi yang dipakai dalam al-kitab pada satu tempat adalah anzala yang masdarnya adalah inzal, di tempat lain dipakai kata nazzala yang masdarnya adalah tanzil. Kedua kata itu berbeda meski mempunyai akar kata yang sama dan bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka artinya sama-sama menurunkan. Shahrur kemudian menjelaskan perbedaannya dari sisi linguistik dengan cara mengumpulkan semua kata anzala dan nazzala, kemudian melihat semua kata tersebut dalam persamaan dan perbedaannya, sehingga ditemukanlah arti yang sebenarnya. Ia juga membandingkannya dengan kata ablagha dengan ballagha.
        Shahrur akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa kata kerja ta'addi dalam wazan أفعل mengandung arti proses diluar kesadaran manusia dari wilayah yang tidak diketahui menuju wilayah yang dapat diketahui, sementara yang dalam wazan فعّل   mengandung arti perpindahan objek secara material diluar kesadaran manusia dan proses tersebut berlangsung tanpa ada pemastian bahwa objek benar-benar sampai pada tujuannya. Lebih jelasnya, Shahrur memberikan contoh dengan proses pemindahan objek gunung Qaison kepada manusia yang hidup di Kairo melalui sketsa. Ada dua proses yang terjadi, proses inzal dan proses tanzil. Pemindahan objek gunung Qaison ke dalam sketsa adalah proses inzal. Proses pengiriman sketsa itu ke Kairo agar bisa dilihat orang Kairo adalah proses tanzil. Bila ini diaplikasikan pada proses turunnya Alquran maka proses pemindahan Alquran dari bahasa Tuhan ke dalam bahasa manusia adalah proses inzal (Yusuf: 2 إنا أنزلناه قرآنا عربيا ), dan proses pengiriman Alquran kepada Muhammad adalah proses tanzil. Proses inzal terjadi secara keseluruhan dan dalam satu kesempatan, tepatnya adalah pada malam lailatul qadr ( إنا أنزلناه فى ليلة القدر  ), sedangkan proses tanzil berlangsung secara berangsur-angsur dalam rentang waktu 23 tahun.

Al-Dzikr
        Al-Dzikr selama ini dipahami sebagai sinonim dari al-quran, namun salah satu ayat dalam Alquran nampaknya membantah pemahaman ini, ayat itu adalah Shad wa al-qur'ani dzi al-dzikr (Shad: 1).  Atribut dzi menunjukkan bahwa al-quran adalah sesuatu yang berbeda dengan al-dzikr. Al-Qur'an adalah subjek tertentu dan al-dzikr adalah sifatnya. Ayat tersebut bila diartikan adalah al-Qur'an pemilik dzikr. Jadi ada sifat dzikr yang dimiliki al-Qur'an. Menurut Shahrur sifat itu adalah bentuk al-Quran dalam format linguistik Arab, dan dalam bentuknya yang baru ini lah dia menduduki posisi sebagai bentuk wahyu yang bernilai ibadah bila dibaca. Ketika manusia membaca bentuk literal Alquran meski tanpa pemahaman tetap bernilai ibadah. Ketika seorang muslim shalat dia membaca al-dzikr dalam shalatnya, meskipun dia tidak memahaminya shalatnya tetap sah. Yang dituntut dalam shalat adalah membaca dzikr bukan melafalkan makna kandungannya, maka shalat harus menggunakan lafal bahasa Arab.
 
Al-Furqan
        Al-Furqan menurut Shahrur bukanlah al-Quran tetapi dia adalah The Ten Commandement, sepuluh wasiat yang diturunkan kepada Nabi Musa.  Thabari mengartikan al-furqan dengan al-fashlu baina al-haq wa al-batil (pembeda antara yang haq dan yang batil), dan beliau menyamakan al-furqan dengan al-kitab ketika menafsirkan ayat 53 dari Surat Al-Baqarah:
                                                        وَإِذْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ  .
Shahrur mengkritik pendapat itu dan mengatakan bahwa adanya atribut waw athaf menunjukkan bahwa ma'thuf dan athf nya adalah dua hal yang berbeda meskipun pada level tertentu mempunyai kesamaan.  Terma al-furqan diturunkan pertama sekali pada Musa, dan al-furqan yang sama diturunkan juga kepada Nabi Muhammad dalam bulan Ramadhan seperti terekam dalam ayat: syahru ramadhana al-ladzi unzila fihi al-Qur'anu hudan li al-nasi wa bayyinatin min al-huda wa al-furqani…. (al-Baqarah: 185). Menurut Shahrur, al-furqan dalam ayat tersebut diposisikan sejajar (ma'thuf) dengan al-Quran sehingga dia bukanlah al-Quran. Menurutnya al-Quran adalah ayat-ayat yang mengandung ilmu pengetahuan dan hukum-hukum alam, sedangkan al-furqan adalah sepuluh wasiat Tuhan yang pernah diturunkan pada Nabi Musa dan diturunkan juga kepada Nabi Muhammad yang terkandung dalam ayat 151-153 Surat al-An'am:
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ .......
 

Teori Limit
        Salah satu ide Shahrur yang kontroversial adalah teori limit. Beliau menerapkan konsep limit dalam Matematika pada ketentuan hukum fikih yang kemudian sebut dengan teori tentang batasan hukum Tuhan. Ia membangun teorinya ini berdasarkan pengalamannya dalam dunia teknik. Dia mempertautkan sains modern dengan teori linguistik dalam menafsirkan ayat Tuhan dan hasilnya adalah sebuah teori tentang batas maksimal dan batas minimal dalam hukum Tuhan. Nashr Abu Zaid mengutip Shahrur dalam kata pengantarnya,
"One day an idea occurred to me when I was lecturing at the university of civil engineering about how to make compaction roads. We have what we call protector test, in which we sample and test soil used in fills in embankments. In this test, we exclude and interpolate. We have x and y. A hyperbole. We have a basic risk. We plot a curve and put a line on the top of it. This line is the upper limit. Then I thought of the concept of God's limit (hudud Allah). I returned here to the office and opened the Qur'an. Just as in mathematics we have five ways of representing limits, I found five cases in which the notion of God's limit occurred. What they have in common is the idea that God has not set down the exact rules of conduct, but only the limits within which societies can create their own rules and laws. I have written about ideas of integrity (al-istiqama) and universal moral or ethical codes. The idea was at first only a footnote in my last chapter, but I saw that I wrote about 'hudud Allah' in the book in order to be consistent. Then I considered my argument to be sound."

        Dalam ilmu matematika ada teori tentang limit, hal ini mengingatkan Shahrur tentang hukum hudud (hudud Allah atau terjemahan sederhananya batasan Tuhan). Menurutnya, seperti limit  dalam matematika, Allah juga mempunyai batas maksimal dan minimal dalam menentukan hukumnya. Makanya, variasi hukuman (had) yang disebutkan secara rinci dalam Alquran sebenarnya adalah tanda batas tertinggi atau terendah dari hukuman bagi kesalahan tertentu, bukan mutlak. Hukuman yang diterapkan di masyarakat bisa saja di bawah standard tertinggi itu, disesuaikan dengan keadaan dan budaya masyarakat yang ada, atau di atas standard minimal, bila yang disebutkan dalam Alquan adalah batas minimalnya. Dengan begitu, menurut beliau, penentuan hukum harus melalui ijtihad yang bisa bebas bergerak menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat selama masih berada dalam garis antara batas maksimal dan batas minimal (hudud Allah). "Islamic legislation must be based on the principles of ijtihad that govern a controlled renewal and flexible adaptation of legal rules to changing historical circumstances”.

E.    Penutup
        Begitulah Shahrur membaca al-kitab dengan pemahaman baru (qira'ah mu'ashirah). Penjelasan Shahrur tentang posisi ayat-ayat dan kategori-kategorinya menunjukkan penguasaannya atas ayat-ayat yang menjelaskan kandungan al-Kitab (ayat-ayat yang masuk dalam kategori tafshil al-Kitab). Penamaan kandungan al-kitab sesuai dengan kategori-kategorinya ini adalah terobosan baru dalam memahami Alquran yang tidak ditemukan dalam karya-karya klasik. Secara keseluruhan usaha Shahrur patut diacungi jempol meski ternyata masih ada kejanggalan-kejanggalan dalam penjelasannya sehingga terkesan terlalu dipaksakan. Salah satu contohnya adalah ketika Shahrur mengatakan bahwa al-Quran dan al-furqan adalah hal yang berbeda. Pernyataannya tersebut terlihat masuk akal dengan mengkategorikan ayat-ayat ilmu pengetahuan adalah al-Qur'an sementara al-furqan adalah the ten commandement. Namun, ketika bukti yang dimunculkan adalah ayat yang tercakup dalam al-Baqarah:185 dengan alasan bahwa ayat tersebut menyebutkan  al-Quran sejajar (ma'thuf) dengan al-furqan sehingga itu berarti bahwa kedua hal itu berbeda, penulis menganggap Shahrur terlalu memaksakannya dan mengabaikan sisi gramatikal (sintaksis) tata bahasa Arab, karena kata  "al-Qur-an" berada dalam keadaan marfu' sedangkan al-furqan berada dalam keadaan majrur. Al-furqan bisa dikatakan sejajar dengan al-huda, sedangkan al-Quran sejajar dengan bayyinat, karena yang disebut pertama diselingi dengan huruf waw athaf dan berada dalam keadaan sama-sama majrur, begitu juga disebut terakhir sama-sama berada dalam keadaan marfu'.
        Penjelasan Shahrur tentang inzal, tanzil dan dzikr lebih dapat diterima dalam konteks pemahaman ulama klasik ketimbang pemahaman Fazlur Rahman atau Arkoun terkait penciptaan/proses turunnya Alquran. Konsep inzal-tanzil-dzikrnya Shahrur lebih selamat dari paham bahwasanya Alquran adalah ciptaan Muhammad atau ada campur tangan manusia di dalamnya, atau  pernyataan bahwa Alquran ada produk budaya. Konsep ini lebih mudah diterima daripada pernyataan menggelitik bahwa Alquran adalah 100% dari Tuhan dan 100% dari Muhammad.
        Bila Fazlur Rahman mempunyai double movement, Sharur punya the limit. Keduanya sama-sama membuka peluang untuk mengeluarkan hukum yang diadaptasikan dengan keadaan kontemporer. Pemotongan tangan pencuri bagi Fazlur Rahman tidak manusiawi, itu adalah tradisi Arab, bukan Islam. Ideal moral dalam potong tangan adalah memotong kemampuan pencuri untuk melakukan pencurian lagi. Sesuai dengan keadaan sekarang, potong tangan tak cocok diterapkan, tapi bisa diganti dengan penjara atau denda yang berat. Sedikit berbeda dengan teori the limit, dalam konteks teori ini, potong tangan tentunya adalah batas maksimal hukuman bagi pencuri. Pada waktu dan ruang yang berbeda, hukuman pencuri bisa saja lebih ringan dari potong tangan, tapi bagaimanapun hukuman itu disesuaikan dengan keadaan ruang dan waktunya, hukuman itu tidak boleh melebihi potong tangan.     

BIBLIOGRAFI
Abdullah, Zulkarnaini. 2007. Yahudi Dalam Al-Qur'an. Yogyakarta: eLSAQ Press
Bleicher, Josef. 2003. Hermeneutika Kontemporer. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru
Christmann, Andreas. 2009. The Qur'an, Morality and Critical Reason. Leiden: Brill
Engineer, Asghar Ali. 2005. The Qur'an, Women and Modern Society. New Delhi: New Dawn Press 
Faiz, Fachruddin. 2011. Hermeneutika Al-Qur'an. Yogyakarta: eLSAQ
Al-Kashmiri, Muhammad Anwar Shah. Musykilat al-Qur'an. Gujarat: Majlis Ilmi
Palmer, Richard E. 2003. Hermeneutika. Terj. Musnur Hery. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Panicker, P. L. John. 2006. Gandhi On Pluralism and Communalism. Delhi: Cambridge Press
Shahrur, Muhammad. 2008. Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Qur'an, terj. Shahiron Syamsuddin. Yogyakarta: eLSAQ Press
 _______"Bi-nass al-Qur'an al-Karim: kull atba' al-diyanat al-samawiyya muslimun" (“According to the Text of the Noble Qur'an: All the Followers of the Heavenly Religions Are Muslims.”) Rawz al-Yusuf (Egypt), no. 3988 (19 Nopember 2004)
_______"Al-Gharb…wa’l-islam" (“The West…and Islam.”) Al-Ittihad (UAE), (April 2004) — (lihat juga: www.shahrour.org).
_______"Al-Harakat al-islamiyya lan tafuz bi’l-shar'iyya illa idha tarahat nazhariyya islamiyya mu'ashira fi’l-dawla wa’l-mujtama'" (“The Islamic Movements Will Only Gain Legality If They Propose A Contemporary Theory of State and Society.”) Akhbar al-'Arab al-Khalijiyya (UAE), no. 21 (17 Desember 2000)
_______"Al-Harakat al-libraliyya rafadat al-fiqh wa-tashri'atiha wa-lakinnaha lam tarfud al-islam ka-tawhid wa-risala samawiyya" (“The Liberal Movements Have Rejected Islamic Jurisprudence and Its Legislations, and Yet They Did Not Reject Islam As Monotheistic Belief and Divine Message.”) Akhbar al-'Arab al-Khalijiyya (UAE),no. 20 (16 Desember 2000)
_______"Al-Irhab wa-Harb al-mustalahat" (“Terrorism and the War of Words.”) Al-Ittihad (UAE), (April 2004)—(lihat juga: www.shahrour.org).

_______“Modernists”, Islam 21 (UK), (Januari 1999)
_______"Qawl fi’l-Hurriyya" (“The Talk About Freedom.”) Taqrir al-Tanmiyya al-Insaniyya al-'Arabiyya, Markaz Ibn Khaldun (Egypt), (Maret 2003)
_______“The Divine Text and Pluralism in Muslim Societies.” Muslim Politics Report (14 Agustus 1997)
Sibawaihi. 2007. Hermeneutika Alquran Fazlur Rahman. Yogyakarta: Jalasutra
Sumaryono, E. 1999. Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius
Al-Thabari, Abu Ja'far. 2000. Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an, Juz II. Muassasah al-Risalah
Thompson, John B. 2005. Filsafat Bahasa dan Hermeneutik. Terj. Abdullah Khozin Afandi. Surabaya: Visi Humanika
Zaid, Nashr Hamid Abu. 2003. Menalar Firman Tuhan. Bandung: Mizan