Kamis, 18 April 2013

PEMIKIRAN SUKARNO TENTANG ISLAM


A. PENDAHULUAN

Sukarno adalah tokoh yang spektakuler, berpengetahuan luas, berani dan revolusionis, setidaknya itulah yang terlihat dari pidato-pidatonya yang berapi-api dan menghipnotis. Berbicara tentang Sukarno adalah berbicara tentang berdirinya Indonesia, karena beliau adalah tokoh sentral dalam sejarah kemerdekaan Indonesia dan salah satu dari The Founding Fathers. Yang menarik dari Sukarno adalah ide-ide politiknya yang brilian, yang muncul dari keluasan pengetahuannya. Sebagai seorang nasionalis sejati, beliau seperti Gajahmada, ingin menyatukan wilayah Nusantara yang beliau sebut sebagai nation staat. Untuk bisa menyatukan wilayah nusantara yang berbeda-beda kultur ini, harus bisa mengakomodir semua perbedaan, bahkan yang bertolak belakang. Agar Republik Indonesia bisa diterima oleh semua pihak, maka beliau meramu sebuah ideologi yang menampung perbedaan-perbedaan itu. Maka munculah istilah Nasionalisme Indonesia, Sosialisme Indonesia, Marhaenisme, Pancasila.

Sukarno adalah pemimpin yang multi talenta, selain mumpuni dalam urusan orasi, politik, fashion, beliau juga "jempolan" dalam bertango. Beliau mempunyai apresiasi seni yang tinggi, dan sangat mencintai keindahan, termasuk keindahan dalam kecantikan wanita. Di balik cerita heroiknya, Sukarno tetaplah manusia yang bisa salah. Bagaimanapun pandainya dia membuat konsep sebuah negara – dengan gagasan sosialisme demokratiknya – toh pada praktiknya tak seindah konsep yang ditawarkan. Konsep negara yang ditawarkannya adalah sebuah negara yang tidak ada orang miskin di dalamnya. Negara yang menjanjikan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Tapi apa lacur, negara yang ia pimpin, hampir bangkrut total di tahun 1965, diikuti oleh berbagai demonstrasi yang berakhir dengan terlepasnya jabatan presiden.
 
Makalah ini mencoba mengupas pemikiran-pemikiran beliau dengan memulainya dari riwayat hidup Bung Karno, filsafat negara, serta pemikiran keagamaan beliau, yang sedikit atau banyak pasti mempengaruhi pandangan politik beliau. Pandangannya tentang akhirat, pasti juga mempengaruhi pandangannya tentang dunia.


B. RIWAYAT HIDUP BUNG KARNO
Ir. Sukarno dilahirkan dengan nama Koesno Sosrodihardjo di  Surabaya , namun karena sering sakit-sakitan maka namanya diubah oleh ayahnya menjadi Soekarno. Nama tersebut diambil dari nama tokoh pewayangan Adipati Karna.  Sukarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam.

Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah ke Mojokerto, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut. Di Mojokerto, ayahnya memasukan Sukarno ke Eerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja. Kemudian pada Juni 1911 Sukarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hoogere Burger School (HBS). Pada tahun 1915, Sukarno telah menyelesaikan pendidikannya di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS. di Surabaya, Jawa Timur. Ia kemudian tinggal di rumah teman bapaknya HOS Cokroaminoto. Di Surabaya, Sukarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Cokroaminoto saat itu, seperti Alimin, Musso, Dharsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis.

Tamat H.B.S. tahun 1920, Sukarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Sukarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib Cokroaminoto. Di sana ia berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.

Pada bulan Juli 1932, Sukarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Sukarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini ia punya kesempatan memperdalam Islam lewat buku dan surat-suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan. Ia kemudian diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1938 – 1942. Sukarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, Sukarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kemerdekaan tersebut diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Di kancah politik internasional Presiden Sukarno mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila. Kebenciannya pada imperialism berpuncak pada munculnya ide non-alignment movement. Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok.

Sifat beliau yang akomodatif dan ingin merangkul semua pihak, termasuk komunis, membuahkan hasil negatif. Setelah peristiwa GESTAPU keadaan politik Indonesia semakin tidak menentu. Ini adalah turning point dari keruntuhan Sukarno. Pidato  pertanggungjawaban mengenai sikapnya terhadap peristiwa G30S pada Sidang Umum ke-IV MPRS ditolak. Pidato tersebut berjudul "Nawaksara" dan dibacakan pada 22 Juni 1966. Pidato "Pelengkap Nawaskara" pun disampaikan oleh Sukarno pada 10 Januari 1967 namun kemudian ditolak lagi oleh MPRS pada 16 Februari tahun yang sama.

Ia akhirnya meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta dengan status sebagai tahanan politik. Pemerintahan Presiden Soeharto memilih Kota Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Sukarno. Hal tersebut ditetapkan lewat Keppres RI No. 44 tahun 1970. Jenazah Sukarno dibawa ke Blitar sehari setelah kematiannya dan dimakamkan keesokan harinya bersebelahan dengan makam ibunya.
   
C. PEMIKIRAN BUNG KARNO TENTANG FILSAFAT NEGARA
1. Negara Kebangsaan
Konsep negara kebangsaan disampaikan Sukarno secara spontan pada 1 Juni 1945 di depan Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan. Sukarno berusaha keras menentang gagasan didirikannya Negara Islam, sebagai gantinya beliau menawarkan Negara Kebangsaan yang didasarkan pada 5 sila. Kebangsaan yang dimaksud bukan kebangsaan dalam arti sempit, namun yang dikehendakinya adalah satu Nationale Staat.

Sebelumnya pemahaman Sukarno tentang bangsa selalu merujuk pada teori yang dikemukakan Ernest Renan atau Otto Bauer. Bahwa syarat terciptanya sebuah bangsa adalah adanya persamaan nasib dan kehendak untuk bersatu. Teori yang sama juga pernah disampaikan Prof. Supomo dalam sidang BPPK sebelumnya, namun Mr. Yamin menyebutnya “verouderd”, outdated, sudah tua. Maka pada kesempatan ini Sukarno menyampaikan pemahamannya yang baru tentang kebangsaan.

Renan dan Otto hanya berbicara tentang orang, mereka hanya mengingat karakter manusia, tapi tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi yang didiami manusia itu. Hal ini disebabkan karena pada masa mereka belum berkembang ilmu baru, yang dinamakan Geopolitik. Orang dan tempat tak dapat dipisahkan. Tempat yang dimaksud adalah tanah air yang merupakan satu kesatuan. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan di mana kesatuan-kesatuan itu. “Seorang anak kecil pun jikalau ia melihat peta dunia, ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kepuluan”, ujarnya. Ia kemudian menambahkan, “Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau-pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Selebes, Halmahera, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan lain-lain pulau kecil di antaranya, adalah satu kesatuan”.  Menurut beliau, Indonesia pernah merupakan negara nationale staat pada zaman Sri Wijaya dan Majapahit.

Dalam sidang ini Sukarno menawarkan pancasila dengan kebangsaan sebagai prinsip pertama,  disusul kemudian secara berurutan dengan internationalism, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan. Kenapa lima? Sukarno mengatakan Rukun Islam 5 jumlahnya, panca indera juga lima bilangannya, Pandawa Lima pun lima orangnya. Atau kalau ada yang tak suka dengan angka 5, Sukarno bersedia memerasnya menjadi 3 saja. Kebangsaan dan internationalism diperas menjadi socio-nationalisme. Mufakat dan kesejahteraan diperas menjadi satu yaitu socio-democratie. Yang satu lagi adalah ketuhanan yang menghormati satu sama lain. Tapi bila ada yang tidak suka dengan trisila, Sukarno bisa memerasnya menjadi satu, yaitu “gotong royong”.

2. Negara dan agama
Dalam Majelis Konstituante pada mulanya ada 3 rancangan dasar negara yang diusulkan: Pancasila, Islam dan Sosial-Ekonomi. Sukarno mengusulkan Pancasila dan menolak Islam sebagai dasar negara. Di pihak yang berseberangan Natsir mengusulkan Islam sebagai dasar negara karena masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam. Bagi Natsir dasar negara hanya mempunyai dua pilihan, sekuler atau agamis. Corak pancasila menurutnya adalah sekuler, karena tidak mengakui wahyu sebagai sumber.  Hamka juga menginginkan Islam sebagai dasar negara. Menurutnya negara berdasar Islam adalah cita-cita sejak lama seluruh gerakan Islam di Indonesia. Ia menyebutkan beberapa nama pahlawan kemerdekaan seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Cik di Tiro, Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin dll. Osman Raliby berkomentar tentang Pancasila, bahwa tuhan dalam Pancasila ialah tuhan yang mati, yang tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap 4 sila lainnya. Ia tidak memberikan hukum sama sekali, malah jika Pancasila diperas, tuhan itu sendiri yang kena hukum, hilang lenyap ditelan oleh gotong –royong.

Kendatipun Natsir beranggapan Pancasila adalah sekuler, bagi Abdulgani, Islam adalah sumber Pacasila. Menurutnya, sila Ketuhanan yang Maha Esa tidak dapat disamakan dengan konsep sekuler. Natsir dan pendukungnya menurut Abdulgani telah terjebak dalam kekacauan semantik. Sementara Sutan Takdir Alisyahbana menilai pancasila hanyalah kumpulan faham-faham yang berbeda-beda untuk menenteramkan semua golongan. Sila-silanya bersifat heterogen, bahkan tak lepas dari kontradiksi dalam dirinya. Pancasila baru dapat diterima oleh umat Islam Indonesia setelah ditafsirkan oleh Hatta, seorang negarawan Muslim yang moralis.

Bagaimanakah sebenarnya Sukarno melihat agama dan negara?. Apakah ia sepaham dengan Hatta dalam menafsirkan Pancasila?. Tidak dapat dielakkan bahwa Sukarno memisahkan antara agama dan negara, sehingga dengan begitu berarti ia adalah seorang yang sekularis. Pandangan sekulernya tampaknya dipengaruhi oleh tokoh idolanya, Mustafa Kemal Attaturk, seorang nasionalis yang sekuler. Beliau mengutip kata-kata Kemal, “Saya merdekakan Islam dari ikatannya negara, agar supaya agama Islam bukan tinggal agama memutar tasbih di dalam mesjid saja, tetapi menjadilah satu gerakan yang membawa kepada perjuangan”. Kemerdekaan agama dari ikatan negara maksudnya adalah memerdekakan agama dari ikatan-ikatan yang menghalanginya untuk tumbuh subur, yaitu ikatan negara, ikatan pemerintah, ikatan pemegang kekuasaan yang zalim dan sempit fikiran. Begitu juga sebaliknya negara dimerdekakan dari ikatan anggapan-anggapan agama yang jumud, hukum-hukum dan tradisi Islam yang kolot yang sebenarnya bertentangan dengan jiwa Islam sejati. “saya merdekakan Islam dari negara, agar Islam bisa kuat, dan saya merdekakan negara dari agama agar negara bisa kuat.

Apa pun alasannya, memisahkan agama dan negara adalah paham sekularisme. Tapi bukan berarti seorang yang sekularis kemudian tidak mempunyai semangat membela agamanya. Meskipun agama dipisahkan dari negara, "tapi kita akan membakar seluruh rakyat dengan apinya Islam, sampai setiap utusan dalam parlemen itu seorang Islam, dan setiap putusan parlemen diresapi oleh semangat dan jiwanya Islam", ucapnya. Ia mengharapkan parlemen terisi oleh orang-orang Islam, 60%, 70%, 80%, 90%, sehingga mampu mewarnai keputusan parlemen dengan warna Islam. Entah itu sungguh-sungguh keluar dari hatinya yang paling dalam, atau hanya ungkapan politis, sebagai penghibur umat Islam yang sudah kecewa.  Tapi yang pasti, harapan Sukarno parlemen berwarna Islam apabilanya isinya 90% Islam tak pernah terwujud sampai sekarang.


D. PEMIKIRAN KEAGAMAAN SUKARNO
Seberapa jauhkah Islam Sukarno? Beberapa ahli agama Islam mengatakan bahwa Sukarno adalah seorang yang berfaham sinkretis Jawa, dan bahwa sinkretisme adalah musuh besar agama. Namun semuanya setuju bahwa Sukarno mempunyai watak keagamaan yang mendalam.

Beliau terlahir ditengah keluarga yang tidak terlalu agamis. Ibunya adalah seorang Hindu, dan ayahnya adalah seorang Muslim yang menurut beliau sendiri Islamnya adalah Islam-islaman. Namun sejak kecil orang tuanya menekankan kepercayaan pada Tuhan. Ayahnya mengingatkan agar dia jangan lupa pada Gusti Kang Maha Suci, dan ibunya juga mengingatkan agar dia jangan lupa Sang Hyang Widi. Dari sini kita bisa menilai bahwa pengetahuan agama yang diberikan orang tuanya tidaklah terlalu mendalam. Namun Sukarno telah bersentuhan dengan tokoh-tokoh Islam yang nampaknya dari merekalah beliau banyak belajar. HOS Cokroaminoto adalah teman ayahnya yang banyak mempengaruhinya. Sukarno adalah anggota Muhammadiyah sampai ajalnya,  dan sering mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan organisasi ini. Mulai dari situ benih Islam modernis pun tertanam dalam dirinya. Beliau juga mengagumi M. Natsir, dan mereka sering berdialog tentang agama, sebelum akhirnya mereka berselisih.

Pengasingannya di Flores adalah turning point dari sikap keIslamannya. Beliau selalu berkirim surat dengan A. Hassan dan banyak belajar dari beliau. Surat-surat itu kemudian dibukukan dengan judul Surat Islam dari Endeh, yang kemudian tercakup di dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi. Buku Amir Ali yang berjudul Spirit of Islam  sangat mempengaruhi pandangan keIslamannya. Buku-buku lain tentang tokoh-tokoh Islam reformis pun dilahapnya. Akumulasi dari semua itu adalah pemahamannya tentang Muslim sekarang yang tertinggal jauh dari barat karena sikap taqlid mereka. Dia menganalogikan dengan masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal terbang.  Bahwa hukum-hukum Islam yang sekarang hanya cocok dipakai di zaman onta, tidak lagi pada zaman kapal terbang sekarang. Bahwa umat Islam telah tertinggal 1000 tahun, maka harus mengejar 1000 tahun itu, bukannya kembali kepada kegemilangan 1000 tahun yang lalu. Bahwa umat Islam telah kehilangan roh keIslamannya, mereka hanya mendapatkan "abu" Islam, bukan "api"nya. Bahwa Islam sontoloyo adalah Islam jumud yang taqlid pada ulama-ulama kolot yang menurutnya belum tentu pikirannya cocok dengan zaman sekarang.

Sukarno menguasai sejarah dan sangat berpegang pada semangat keIslaman, tapi tidak pada furuiyah. Sayangnya, beliau memang tidak mengusai bidang fiqh, dan ilmu-ilmu keIslaman yang lain sehingga inilah yang yang membuatnya berbeda dengan kalangan santri. Dia menolak hukum Islam yang kolot, namun dia sendiri sebetulnya belum mengerti hukum Islam itu bagaimana. Hal ini terlihat dari diskusinya dengan A Hassan dalam Surat Islam dari Endeh. Beliau sangat berkeinginan mempelajari hadis Bukhari, namun sayang A. Hassan tidak menemukan kitab Bukhari dalam bahasa yang bisa dimengerti Sukarno. Satu hal lagi yang menurut dia Islamnya mungkin berbeda dengan orang Islam pada umumnya, bahwa dia adalah Monotheis yang pantheistis. Penjelasan tentang itu ia samapaikan dalam sebuah pidatonya yang berjudul "Tauhid adalah Jiwaku". 
"….Jadi, apakah Tuhan itu adalah zat yang berada di singgasana di atas langit sana? Suatu zat di langit, apa yang disebut orang sebagai "Tuhan yang Mempribadi"? Jika ia hanya hidup di atas sana, maka ia bersifat terbatas. Bukankah demikian? …. Juga jika tuhan hanya mempunyai dua puluh sifat, maka Tuhan ini juga terbatas… Bhagavad Gita mengatakan – aku tidak peduli apakah nyanyian itu benar atau tidak – Bhagavad Gita berkata, 'Aku ada di dalam api. Aku ada di dalam panasnya api; aku ada di bulan, aku ada dalam sinarnya bulan' ya, bahkan, 'aku ada dalam senyumnya seorang gadis', 'aku ada dalam awan, aku ada dalam iring-iringannya awan yang bergerak bersama-sama. Aku ada di dalam kegelapan. Aku ada dalam cahaya. Aku tanpa awal dan tanpa akhir'. Ini sesuai dengan pendapatku. Jadi dengan demikian, di manakah Tuhan? Apakah Tuhan itu di sana, hanya, hanya, hanya di sana, hanya di langit ketujuh? …. Aku ini seorang penganut monoteisme, tetapi aku adalah seorang penganut monoteisme yang panteistis".

Dalam pidatonya tersebut nampaknya Sukarno ingin menyampaikan pemahamannya tentang Tuhan. Bahwa tuhan yang ia imani adalah Tuhan yang bukan hanya bersifat transcendent, hanya menetap di 'arsy', hanya berada di atas sana, tapi juga Tuhan yang immanent, Tuhan yang juga hadir di sini, di bulan, di matahari, di bintang-bintang, di gunung, di dalam api, di semut, dan ada di mana-mana, di dalam semuanya tetapi ia satu. Satu tetapi meresapi segala sesuatu.  Memang banyak orang yang salah memahami immanentnya Tuhan dan terjerembab dalam pantheism. Bila Sukarno adalah salah satunya, maka tentunya ini dipengaruhi oleh ajaran Hindu, yang bisa jadi berasal dari ibunya.  Namun, penulis menduga Sukarno bukanlah penganut pantheism seperti yang ia sebutkan, karena pantheism tidak bisa sekaligus monotheism, keduanya adalah hal yang bertolak belakang. Kalau Sukarno mempercayai hanya satu Tuhan, maka tentulah yang ia maksud dengan Tuhan ada di mana-mana adalah sifat Tuhan yang immanent.

Sayangnya, untuk mengatakan beliau tidak pantheist pun ternyata bertolak belakang dengan beberapa sikapnya. Seperti pengakuannya bahwa mendatangi makam-makam dan meminta sesuatu adalah adat takhyul, namun secara jujur ia mengatakan bahwa ia melakukannya. Memohon sesuatu kepada selain Allah bukanlah sikap monotheist, kalau bukan polytheist, tentulah pantheist. Meminta sesuatu kepada roh yang sudah meninggal sudah jelas bukan tradisi tauhid, ini adalah tradisi Hindu dan Budha. Mungkin Sukarno punya alasan sendiri kenapa ia memohon di makam-makam. Atau malah ini menunjukkan bahwa beliau tidak begitu punya perhatian terhadap perilaku agamis. Yang beliau anggap penting nampaknya hanyalah spirit dan pemikiran, karena itulah yang dia anggap bisa memajukan bangsa. Dalam sebuah pidatonya di depan mahasiswa IAIN tanggal 2 Desember 1964, beliau mengatakan,
"…Bebaskanlah kamu punya pikiran dari suasana berpikir pesantren. Naiklah ke langit, seperti telah aku lakukan, dan lihatlah sekeliling! Dan jangan hanya melihat ke Saudi Arabia, ke Mekkah, ke Medinah, tetapi lihat ke Kairo, Spanyol, dan lihat ke seluruh dunia. Lihatlah sejarah, di masa lampau, sejarah masa lampau seluruh rakyat di muka bumi ini, bukan hanya sejarah rakyat Indonesia dan sejarah rakyat Arab, tetapi sejarah kemanusiaan! Hanya dengan begitulah kamu akan dapat melakukan apa yang disebut  studi perbandingan, dalam hal kalian, studi perbandingan agama, untuk membandingkan, membanding yang satu dengan yang lain.Bebaskan dirimu dari jiwa atau suasana atau iklim pesantren. Sekali lagi aku minta maaf, aku tidak bermaksud menghina. Aku telah membebaskan diriku dari dunia kebendaan ini yang tidak memberiku kepuasan, tidak ada kesenangan, dan telah naik mi'raj, mi'rajnya pikiran…"dunia pikiran". Artinya ialah aku biasa membaca buku-buku yang ditulis oleh orang di seluruh dunia… Di situlah aku bertemu dengan para pemikir, para pemikir seluruh bangsa."
   
Menurut Dahm, sebelum tahun 1934, Sukarno tidaklah demikian yakin menganut agama Islam. Meskipun ia mempunyai simpati yang mendasar terhadap agama, tetapi pengetahuan agamanya hanya sekedar yang dibutuhkan saja, yang terutama diangkatnya dari buku Lothrop Stoddard, "Dunia Baru Islam". Dan ia lebih terangsang dengan "dunia baru" itu daripada dengan "Islam" itu sendiri.


E. PENUTUP
Setelah menyelami pemikiran Sukarno tentang bangsa, bentuk negara, dasar negara, dan pemahamannya terhadap agama, kita bisa membuat sebuah kesimpulan bahwa beliau memang seorang negarawan tulen, politikus ulung, singa podium, seniman, nasionalis sejati, yang mempunyai wawasan pengetahuan yang luas dalam banyak hal, karena kesukaannya dalam membaca dan "membaca". Kemampuan seninya ia abadikan dalam bentuk monumen-monumen yang berdiri di berbagai lokasi di Ibu Kota, termasuk Master Piecenya, Monumen Nasional yang menjadi lambang Jakarta. Beliau adalah lambang perlawanan terhadap penjajahan, pembela wong cilik, pembela kaum tertindas, pembela kaum proletar.

Meski dalam sejarah kepemimpinannya beliau dianggap sebagai presiden yang gagal dalam mewujudkan cita-citanya, namun dia sudah memberikan kontribusi yang tak ternilai harganya bagi berdirinya sebuah negara yang diakui oleh masyarakat dunia. Nixon pernah menulis: "Sukarno adalah contoh terbaik yang saya kenal tentang seorang pemimpin revolusioner yang dengan ahlinya mampu menghancurkan suatu sistem, tetapi tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk membangunya kembali". Menurut Nixon, program Sukarno hanya dinilai positif dalam perjuangan membebaskan Indonesia dari kekuasaan kolonial. Lebih dari ini, "kekuasaannya adalah malapetaka bagi rakyat Indonesia". Pendapat Nixon tak sepenuhnya benar, bukan hanya dalam merobek sistem kolonial, tapi dalam membangun kesatuan Indonesia, beliau punya andil yang sangat besar.  Tentu saja Sukarno bukan malaikat yang tidak mempunyai sisi buruk. Sikap keras dan tau mau komprominya tentu tidak disukai banyak orang, kecenderungannya untuk otoriter dan mendikte orang lain juga adalah keburukan manusiawi yang sering muncul dalam pribadi seorang pemimpin.

Kesukaannya terhadap wanita dan sifat cassanova yang menempel padanya adalah hal negatif lain yang mendapat cibiran dari tidak hanya orang Indonesia tapi juga dunia. Media asing menyebutnya sebagai presiden yang tak tahan melihat rok wanita. Namun, menurut pengakuan istri-istri beliau, Sukarno adalah pecinta keindahan, termasuk keindahan yang ada dalam wanita. Mereka tidak menyukai sifat Sukarno ini, tapi mereka menghargai Sukarno sebagai orang yang berani menentang badai demi cintanya. Fatmawati mengatakan, meski Sukarno menyukai banyak wanita, namun dia bukanlah seorang hipokrit. Hartini mengatakan, meski Sukarno adalah pecinta wanita, namun cinta sejatinya sebetulnya hanya pada bangsanya, bukan wanita.


Mencermati kata-kata Hartini di atas, dalam konteks memahami pemikiran dan ideologi campur aduknya yang mengakomodir perbedaan, sebenarnya dapat ditarik benang merah dari semua itu yaitu cintanya terhadap bangsa, kebenciannya terhadap kolonialisme yang menyengsarakan bangsanya, akhirnya menumbuhkan kesadaran dan kebutuhan untuk bersatu melawan imperialism dan kapitalisme. Inilah semangat yang mendasari seluruh pemikiran Sukarno, termasuk pemahamannya terhadap agama.


DAFTAR PUSTAKA

Abdulgani,Roeslan. Perkembangan Tjita-tjita Sosialisme di Indonesia, (Malang: penerbitan Jajasan Perguruan Tinggi Malang, 1960)
Adams,Cindy. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (.Jakarta: Gunung Agung, 1984),
Aji, Achmad Wisnu Kudeta Supersemar: Penyerahan atau Perampasan Kekuasaan?. (Garasi House of Book, 2010)
Boland, B. J. Pergumulan Islam di Indonesia, terj. Saafroedin Bahar, (Jakarta: PT Grafiti Pers, 1985)
Dake, Antonie C. A. The Sukarno File 1965-1967, (Leiden – Boston: Brill, 2006)
Feith, Herbert dan Lance Castles. Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 1995)
Feith, Herbert. The decline of Constitutional Democracy in Indonesia, (London: Cornell University Press, 1973)
 http://kafeilmu.com
http://news.okezone.com
http://www.berdikarionline.com
http://www.nam.gov.za
http://www.trianda.herisonsurbakti.com
http://www.tribunnews.com, http://m.tempo.co
Kasenda,  Peter. Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2010)
Ma'arif, Ahmad Syafi'I. Islam dan Masalah Kenegaraan, (Jakarta: LP3ES, 1985)
Natsir,  Mohammad. Islam Sebagai Dasar Negara, (Bandung: Pimpinan Fraksi Masyumi dalam Konstituante, 1957)
 Sukarno. Dibawah Bendera Revolusi, Jilid Pertama, (Jakarta: Panitya Penerbit, 1963)
Suseno,Franz Magnis. Berfilsafat dari Konteks, (Gramedia Pustaka Utama, 1992)
__________________. Etika Sosial, (Jakarta: Gramedia, 1975)
Wolf Jr., Charles. The Indonesian Story( The Birth, Growth And Structure Of The Indonesian Republic),( New York: The John Day Company, 1948) 

0 comments: